CERMOWARSITO






Jenis Kelamin :
Laki-Laki

Tanggal Lahir :
12 Desember 1865

Alamat :
-

Website :

Email :

Kategori Seni :
Pedalangan (wayang kulit)

Keterangan :

Dalang Cermowarsito lebih dikenal dengan nama Cermotulung, nama Cermotulung ini ia peroleh karena ia tinggal didesa Tulung Taman Martani Kalasan Sleman. la dilahirkan di desa Basen Kelurahan Basen Klaten, tahun 1885 dari keluarga Bapak Cermoikromo seorang dalang juga yang ternama pada waktu itu, walaupun namanya tidak setenar Cermotulung. Dari perka­winannya dengan seorang perempuan dianugerahi 3 orang anak, dua laki-laki menjadi dalang dan seorang perempuan menjadi waranggana.

Semenjak masih kecil setiap kali ayahnya mengadakan pergelaran (di­tanggap) ia selalu mengikutinya. Dari sinilah ia belajar secara langsung dari orang tuanya. Kecuali itu ia pun mendapat bimbingan dan petunjuk dari ayahnya, secara khusus. la hidup dari lingkungan seniman pedalangan yang diwarisi sejak nenek moyangnya, hal inilah yang sangat mendorong baginya untuk mendalami seni pedalangan.

Cermotulung mulai mendalang dimuka umum pada usia 20 tahun (1906). Sebagaimana dalang-dalang yang lain kehidupan dalang memang menantikan uluran tangan orang lain, demikian juga dengan Cermotulung iapun selalu menantikan panggilan orang lain untuk mengadakan pagelaran/nanggap. Dari sinilah ia menekuni profesinya sebagai dalang dan sebagai dalang iapun menekuni seni karawitan dan tari, khususnya tari topeng gaya pedalangan. Kebisaannnya dalam ilmu kejawen sempat juga dimanfaatkan oleh masyarakat yang percaya, hingga iapun dikenal sebagai dukun yang sangat ampuh dapat menyembuhkan orang sakit dengan mantera-mantera kejawennya, memberikan petunjuk bagi orang yang membutuhkan (ngalap berkah) dan lain sebagainya.

Sayang walaupun ia seniman pedalangan yang menonjol pada zaman­nya akan tetapi belum terpikirkan untuk memanfaatkan pengalamannya melalui ceramah-ceramah tentang seni pedalangan ataupun kursus tentang seni pedalangan kepada masyarakat umum. Tetapi secara tradisi ia memberikan bimbingan kepada anak-anaknya sendiri agar supaya bisa melanjutkan atau mewarisi peninggalan nenek moyangnya seperti juga ia sendiri. Pada jamannya ada semacam kepercayaan bahwa tidak sembarang dalang berani mengge­lar cerita Barata Yuda, karena apabila hal ini dilanggar maka dalang atau pemilik rumah yang nanggap akan mendapat suatu musibah. Hanya dalang yang Sakti yang memiliki daya gaib yang dapat menghilangkan petaka berani mempergelarkan Barata Yuda. Cermotulung adalah dalang yang pertama kali " berani " mementaskan cerita Barata Yuda pada tahun 1958 di Sasano, Hinggil Dwi Abad Yogyakarta. Hingga akhir hayatnya tahun 1964 ia sudah mementas­kan cerita Barata Yuda sebanyak 14 kali di Sasano Hinggil Dwi Abad dan 6 kali di RRI. Baru setelah itu dalang lainpun berani mementaskan cerita Barata Yuda, antara lain Ki Jayengcarito, Ki Cermokarsono (Sempon Muntilan). Selama ini almarhum Ki Cermotulung belum pernah menerima piagam atau penghar­gaan dari pemerintah akan tetapi ia pernah menerima paringan Dalem Kanjeng Sinuhun Sri Sultan Hamanegku Buwono ke IX berupa sebuah wayang Raden Gatotkoco dan sebuah Blencong. Pada hakekatnya pemberian tanda penghargaan ataupun piagam adalah sangat penting, karena hal ini men­dorong para seniman untuk lebih meningkatkan pengabdiannya dan me­rasakan bahwa ia mendapat perhatian sewajarnya sejajar dengan profesi seni lainnya. Selama hidupnya Ki Cermotulung belum pernah mengenyam pendidikan di sekolah, kursus-kursus ataupun penataran. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa keahliannya dalam seni pedalangan baginya betul-­betul hanyalah warisan orang tuanya yang kemudian ia perdalam sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain. Ia benar-benar seorang otodidak dalam meniti puncak ketenarannya sebagai dalang.

Di dalam setiap kesempatan ia mendalang, disamping memberikan hiburan kepada masyarakat luas ia menyelipkan pendidikan budi pekerti kepada masyarakat, bahwa setiap perbuatan yang tidak baik tentu akan dikalahkan oleh yang baik.

Seni pedalangan sebagai suatu profesi tidak bisa "diwayuh", artinya seorang dalang tidak boleh y nyambi menjual wayang bikinannya atau pro­fesi lainnya, karena kalau sudah demikian maka dalang tersebut tentu tidak laku lagi, demikian ungkapnya yang dipesankan/diwariskan kepada anak cucunya.

Cermotulung dalang yang kesohor ini semasa mudanya pernah tinggal di Klewer Manisrenggo kemudian pindah di Plungkruk Sambilegi dan yang terakhir di desa TulungTamanmartani Kalasan Sleman sampai akhir hayatnya. Masyarakat desa Tulung terdiri dari petani, pedagang dan lain-lainnya, yang dalam hal ini sedikit sekali bisa membantu perkembangan seni pedalangan, karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan sehari-hari. Tetapi kegemaran masayarakat menonton wayang sudah cukup memberikan dorongan moral bagi Ki Cermotulung.

Pedalangan adalah satu-satunya sumber hidupnya, karena ia tidak bekerja yang lain kecuali sebagai dalang. Disinilah nampak bahwa Ki Cermotulung betul-betul mengabdikan dirinya lewat seni pe­dalangan sekaligus sebagai profesinya