|
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914 Fax 0274 580771 Kontak Messenger
Statistics
238181 Total visits
351 Visits Today 2 Currently Online |
DATA SENIMAN
Jenis Kelamin : Perempuan Tanggal Lahir : 15 Maret 1935 Alamat : Klebakan Salamrejo,Sentolo,Kulon Progo. Website : Email : Kategori : Pedalangan (Penggender perempuan wayang Purwa) » Klik disini untuk Daftar Karya Djainem Dalam Galeri Keterangan :
Beliau Nyi Djainem lahir di Kulon Progo ,15 Maret 1935.Anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan almarhum Ki Widiprayetno dan Sutilah.Ayahnya ,Ki Widiprayetno lebih terkenal dengan nama Ki Widi Regut.Semua dimulai rasa tresna,senang,dan tidak ada unsure paksaan.Itulah yang membuka diri Nyi Djainem dapat menyatu dengan semua insreumen gamelan ,termasuk gender.Sejak usia 8 tahun sudah mampu untuk memainkan instrument gender,belajar secara otodidak karena kebiasaanya melihat pertunjukan wayang yang dilakukan ayahnya maupun kakeknya.Perhatian dan ketertarikannya terhadap instrument gender semakin besar ketika ia sering menyaksikan kakak sepupunya yaitu Nyai Langenbarata.Semenjak itu ia bahkan sering diajak Nyai Langenbrata ke kraton setiap menunaikan kewajiban sebagai abdi dalem kraton dibidang karawitan. Djainem sempat merasakan bangku sampai kelas III Sekolah Rakyat (SR) tapi akhirnya terpaksa berhenti akibat masuknya tentara pendudukan jepang tahun 1942.Pertama kali menabuh gender mengiringi pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Wadyaprayitna ketika ia masih berusia 12 tahun dan masih menggunakan bangku kecil atau dingklik karena untuk mengimbangi ketinggian instrument gender.Djainem sebagai keturunan dalang yang terkenal,maka tak heran apabila semenjak kecil akrab dengan dunia seni tradisi.Kakeknya juga dalang terkenal begitu juga kakek buyutnya.Djainem adalah nama pemberian nenek buyutnya ,Nyai Ganda Pawira.Mungkin telinga saya sudah sering mendengar sehingga naluri saya ikut menghayati dan memahami semua suasana wayang dengan instrument gender. Setiap waktu dan kesempatan ia belajar gamelan sejak kecil.Tanpa paksaan dan keharusan untuk meneruskan seni tradisi ,Djainem kecil menyukai instrument gender.Atas dasar suka dan mencintai instrumen itu ,sehingga secara ototidak saya dianggp mampu memainkan gender dengan baik.Suasana hati membuat saya di anggap aneh,penggender perempuan itu memang langka ,biasanya kaum lelaki yang bisa,”tutur perempuan yang juga di masa mudanya dikenal sebagai sinden. “Dulunya saya masih muda ya sebagai wiraswara atau sinden.Suaranya ya tidak kalah dengan sinden lain ,”paparnya,sehingga setiap malam selalu pentas dan siangnya juga pentas terutama pada miusim hajatan.Pada usia sekitar 14 tahun yaitu tahun 1949 ,ia menikah dengan Siswokusnoto,seorang pejuang yang pada Class I tergabung dalam satuan Tentara Pelajar,dan Class II bergabung dengan SODM(Sub Onder Distric Militer)yang bermarkas di Salamrejo,Sentola.Setelah kemerdekaan Siswokusnoto melepaskan baju tentara dan menjadi pegawai negri yaitu menjadi guru dan selalu mendukung bakat dan kemampuan istrinya hingga ia merupakan satu-satunya penggender wanita yang masih tersisa sampai saat ini di Wilayah Kulon Progo.Sampai saat ini ia masih aktif berkesenian dengan perkumpulan karawitan dikampungnya serta masih sering untuk menabuh gender dalam acara-acara tertentu baik karawitan maupun wayangan walau sudah tidak kuat selama semalam suntuk.Warisan Gender 16 bilah yang dimilikinya dari kakeknya yaitu Ganda Pawira dan menjadi momental kariernya semenjak kecil masih tersimpan bahkan masih sering digunakan sampai sekarang. Rumahnya kini setiap hari selalu terdengar bunyi instrument gamelan.Warga klebakan masih aktif melestarikan karawitan Jawa ini dibimbing Nyi Djainem.Hal ini dibuktikan kelompok-nya menjadi pengisi tetap siaran Uyon-uyon RRI Nusantara II Yogyakarta.Kendala pengembangan karawitan bagi perempuan memang besar karena banyak orang tua yang kurang suka anaknya menjadi pangrawit.Padahal dengan belajar gamelananak dapat mempelajari etika Jawa,Pelajaran hidup dari tembang-tembang yang ada ,dan wayang itu banyak sekali faedahnya bagi pencerahan hidup manusia.
|
|
|


