|
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914 Fax 0274 580771 Kontak Messenger
Statistics
249770 Total visits
349 Visits Today 2 Currently Online |
DATA SENIMAN
Jenis Kelamin : Laki-Laki Tanggal Lahir : 12 Desember 1912 Alamat : - Website : Email : Kategori : Seni Rupa (lukis potret) » Klik disini untuk Daftar Karya DJAJENG ASMORO Dalam Galeri Keterangan :
Habis manis sepah dibuang, demikian ujar pepatah kuno. Memang terasa menyakitkan jika pepatah itu terjadi pada diri seseorang. Lebih sakit lagi bila pembuang ‘sepah’ memandang dengan mata terpicing. Djajeng Asmoro, salah seorang pendiri ASRI disamping Hendra Gunawan, Kusnadi, RJ. Katamsi dan Trubus, kini merasa menjadi ‘sepah’. Sakit hatinya tak separah dulu lagi (th 1957), di mana saat itu ia merasa ditendang kawan sejawatnya. Betapa tidak ' la turut bersusah-payah 'membidani' kelahiran ASRI. Tapi, setelah tujuh tahun menikmati hasil kerjanya, lantaran tidak memiliki ijazah ahli gambar, ia dicutat kedudukannya. Menteri PP & K, Moh- Yamin, yang menghentikannya. Dan RJ Katamsi, sahabatnya yang menjabat direktur, tak menghiraukan sama sekali. Membiarkan Djajeng longsor dari kedudukannya. Tentu saja dendam kesumat Djajeng terhadap akademi Seni Rupa itu merajalela. Sakit hati dan frustasi. Kini sakit hati itu mulai pudar perlahan-lahan sejalan usianya. Emosinya mulai kendor. Ia semakin bijak dan dewasa. Sekalipun dari ASRI ia tidak Dalam percaturan seni rupa sekarang, nama Djajeng Asmoro, nyaris tak Meskipun, pendengarannya mulai berkurang, bapak dari tiga anak dan kakek tujuh cucu itu, tetap mempunyai ingatan yang tajam. Ia dengan fasih mampu menceritakan masa silam, sekalipun sesekali dibantu buku catatan dan foto kenangan. Kadang, isterinya yang dinikahi th. 1932, membantu menjelaskan pembicaraan. Februari lalu, ia merayakan kawin emas. Mereka, agaknya, pasangan ideal yang senantiasa berbahagia. Djajeng mempunyai nama lengkap RM. Suhardjo Djajeng Asmoro. Lahir di Yogyakarta 24 Januari 1908. Orang tuanya Raden Wedono Reso Asmoro, mempunyai darah bangsawan. Karena sejak kecil ia hidup dalam adat istiadat kebangsawanan yang ketat, kedisiplinannya amat kuat. Banyak kenangan indah yang membekas di masa itu. Umpamanya, bagaimanana dengan telaten diselesaikannya gambar wayang yang merupakan lingkungan terdekatnya. Maklum, orang tuanya gemar koleksi wayang kulit. Melihat bakat yang ada pada anaknya, Raden Wedono menyalurkannya. Diantarkanlah Djajeng kepada KRT Djojodipuro, seorang arsitek kawakan Kraton Ngayogyakarta. Saat itu, th 1918 - 1920, Djayeng terlampau pagi berguru pada empu kesenian. Usianya masih belasan tahun. Namun semangat belajar menggambarnya tak pernah surut. Tidak terhenti oleh rintangan apapun. Faktor usia baginya bukan sesuatu yang berarti. Tak ada istilah "menunggu" dalam belajar. Semua musti dimulai sejak awal. Di situ ada nyala api, tentu ada jalan terang ke depan. Demikian prinsipnya. Sebagai anak bangsawan, ia bernasib mujur. Tidak seperti pribumi lainnya. Bangku MULO Kristen Kotabaru, sempat dikenyamnya selama tiga tahun. Disana pula, dalam kelompok Kepanduan Nasional Indonesia (Budi Oetama), ia mulai dikenal sebagai pelukis. Gambar-gambarnya banyak menarik perhatian. Selain berbakat seni, Djajeng mempunyai kegemaran menularkan (mengajarkan) ilmu yang dimilikinya, ialah pendidikan! la merasa senang jika seseorang menjadi pintar dan terangkat derajatnya. Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan dan pendiri Taman Siswa, merupakan nyala api yang menyinari cita-cita Djajeng Asmoro. Antara 1927 - 1929 di Yogya dan Jakarta, ia aktif dalam kursus - guru Taman siswa yang dipimpin langsung oleh Ki Hadjar Dewantara. Di situ ia seperti tertempa. Kemauan dan tekad yang keras, bertemu dengan semangat bergelora. Seperti tumbu oleh tutup, Djajeng kian matang cakrawala pemikirannya tentang pendidikan. Tentu saja pendidikan seni gambar yang digeluti, sebagaimana bakat utamanya. Antara kemahiran menggambar dan kegemaran mendidik, melahirkan pusat belajar (kursus–kursus) seperti KAG (kursus ahli gambar), kursus menggambar SRIWARNA, PTPI (Pusat Tenaga Pelukis Indonesia), SGA Prabangkara dan ASRI. Dalam wadah–wadah pendidikan itu , ia mengembangkan bakatnya disamping mengajar. Mengajarkan kebiasaannya pada yang lebih muda. Nama-nama Bagong Kussudiardja, Hendrodjasmoro, Sunarto Pr, adalah sebagian dari muridnya yang kini berhasil. Tahun 1934 sekembalinya mengeruk ilmu-gambar di Batavia, Djajeng mendirikan kursus menggambar SRIWARNA bertempat di rumahnya, Kemetiran Kidul, Yogyakarta. Dua belas tahun SRIWARNA mengolah diri, dan menggembleng siswanya. Pelajaran yang diberikan meliputi teknik dasar melukis secara naturalistis. Baik melukis pemandangan maupun gambar potret. Sriwarna dalam perkembangannya ternyata merupakan embrio kelahiran ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia). Dari tahun ke tahun ia mengembangkan dirinya. Bermula dari Sriwarna, 1947 di tempat yang sama, berdiri AKTE A Guru Gambar (sejenis kursus menggambar). Kemudian dua tahun berikutnya, 1949– 1953 berlangsung pendidikan gambar AKTE B1 & B2 Guru Gambar. Dalam kursus-kursus ini, Djajeng menuangkan cita-cita pendidikan. Sedang perwujudan cita-cita idealisme kesenimannva, dituangkan ke dalam PTPI. Tahun l945 PTPI didirikannya,dengan anggota antara lain Kuncaraningrat dan Endro Sugondo. Masa itu merupakan jaman pergolakan revolusi fisik, dimana semangat kepahlawanan berkobar dalam kalbu setiap bangsa Indonesia. Seperti bara tersiram minyak, naluri seniman pun menyala. Dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencatat; seniman ikut berjuang. Seniman yang tergantung dalam PTPI dibawah kepimpinan Djajeng membuat lukisan perjuangan, poster-poster dan spanduk dengan keyakinan bahwa, "cat, pensil dan kertas akan bersama–sama peluru–pelor dan kata diplomasi mengusir sisa–sisa penjajahan". Mereka bertekad melakukan 'peperangan' dan perjuangan lewat media estetis – seni rupa. Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh PTPI saat itu, merupakan kelanjutan dari semangat sebelumnya. Sejak awalnya Djajeng dkk telah membuka front – front 'pemberontakan'. Misalnya di jaman pendudukan Jepang th. 1942. Kedatangan Jepang di Yogya disambut sebuah Exposisi seni rupa di pendopo Sono Budoyo. Karya – karya yang dipajang adalah manifestasi kegelisahan rakyat terhadap segala bentuk penjajahan. Penuh sindiran. Sebuah lukisan karya Hasan, salah seorang murid Djajeng, sempat bikin murka penguasa Jepang. Lukisan itu menggambarkan suasana panen di sawah. Tanaman padi yang nampak menguning, tidak dinikmati dengan kegembiraan oleh rakyat, karena hasil panenan itu diangkut 'saudara tua'. Sindiran itu memang lugu dan polos. Namun toh dalam bahasa sedemikian verbal, naluri 'saudara tua' sempat tertohok. Menyakitkan! Pemuda dalam PTPI adalah sekelompok remaja yang oleh penguasa kolonial dianggap 'nakal'. Tahun 1945 mereka berpameran di sepanjang jalan raya Yogyakarta. Nada lukisan dan posternya, menyindir sekaligus membakar semangat rakyat. 'Poster Aksi', demikian mereka menyebutnya. Gambarnya berupa karikatur. Tujuannya, melancarkan aksi terhadap Nica Belanda - dimana seluruh rakyat menghendaki kemerdekaan dan kekuasaan yang berdaulat. Salah satu poster yang sangat lekat dalam ingatannya, adalah poster raksasa berukuran 2 x 3 meter yang dipasang di utara Hotel Garuda, Yogya. Gambarnya, seorang petani menenteng cangkul yang menyatakan diri ikut tergabung dalam barisan revolusi. Poster ini nadanya membujuk semua lapisan masyarakat supaya beramai-ramai terjun langsung ke medan laga. Di dalam poster ada sebaris kalimat yang cukup memikat : Le Aku Melu! Artinya, nak Aku Ikut'! " Boleh dikata partisipasi kami dengan poster sangat sukses", ujar Djajeng Asmoro mengenang. Setidaknya. poster-poster PTPI diakui keampuhannya menggugah semangat juang - sehingga berulangkali dicetak. " Waktu itu, setiap harinya, kami mencetak / sablon ratusan poster", jelas Djajeng. Poster – poster itu di sebar ke seluruh Jawa. Bahkan sampai P. Bali. Penyebarnya pemuda yang tergabung dalam BKR (Barisan Keamanan Rakyat). Ketika akan disebar ke Bali, kenang Djajeng Asmoro, poster digulung dimasukkan tabung seng dibawa berenang menyeberang selat Bali. Karena jasanya, ia mendapat piagam penghargaan ”Tanda Terima Kasih Rakyat ” dari pimpinan BPRI Pusat yang ditandatangani Sutomo. Piagam itu merupakan satu diantara tiga penghargaan yang dimilikinya. Yakni, Surat penghargaan dari Pangdam VII Diponegoro yang ditandatangani Mayjen Surono (1970) dan Piagam dari Panitya Reuni Pertama ASRI (1970). Oleh Pangdam ia diakui berjasa karena menyelesaikan pembangunan tahap awal Monumen Diponegoro 'Sasana Wiratama' di Tegalrejo Yogyakarta. Sedang oleh Panitya Reuni ASRI. "Saat itu saya merasa lega karena mereka mau mengakui, kendati sakit hati masih tersisa", katanya. Bicara tentang pemberian tanda penghargaan Seniman, Djajeng mengatakan, bahwa semestinya pemerintah memberi perhatian serius. Biar sederhana, namun nilainya cukup berharga bagi diri seniman bersangkutan. Bukan seniman yang meminta diakui, tapi justru sebaliknya," tuturnya. Sebenamya kalau ia ngebet mengkoleksi tanda penghargaan, akan dikantongi puluhan piagam. Tapi, rupanya Djajeng tidak. Kendati beberapa kali dikerjakan proyek bertaraf nasional, ia tak beroleh penghargaan apapun. Saya manut. Diberi ya syukur, tidak juga tak apa", kilahnya. Saya tidak pernah meminta! Biarkan monumen karya saya tetap langgeng, sementara mata rantai kesejarahan tetap bisu menggilinding. Tetapi dokumen pribadi saya, foto-foto dan surat perintah serta kliping berita koran, yang akan menjawab sejarah itu. " Saya memang tidak pinter ngomong dan emoh cari muka ataupun menjilat orang supaya dicatat sejarah", ujarnya lirih. Apapun adanya, sebagai nasionalis sejati ia emoh minta penghargaan. Terhadap ASRI, misalnya, ia tetap membina hubungan baik. Setiap kali ASRI menyelenggarakan pameran, Djajeng menyempatkan diri nonoton. Mengamati perkembangan. la tetap merasa sebagai 'bapak' yang ikut merintis, melahirkan dan membesarkan 'anak'nya. Djajeng merasa 'handarbeni' (ikut memiliki). la ingat betul bagaimana bayi ASRI menggeliat, merangkak, berdiri untuk kemudian berjalan sendiri. Djajeng bersama PTPI lah, yang membimbing, langkah ASRI. Fasilitas milik Kursus Ahli Gambar PTPI, di awal berdiri ASRI, diserahkan ke Akademi itu. Misalnya, sanggar di Bintaran (sekarang SMA Swagaya) – beserta bangku – bangku dan alat melukis lainnya. Di bekas sanggar PTPI itu, mahasiswa angkatan I ASRI seperti Abdul Kadir (kini menjabat Direktur ASRI), Widayat, Abas,Bagong, Edhi Sunarso,dll, – mengolah kreativitasnya. Belajar melukis! Dalam Konggres Kebudayaan (1948) di Magelang, pelukis Djajeng Asmoro hadir diantara seniman dan budayawan lainnya. la berandil ikut merancang dan mengolah janin akademi seni rupa. Oleh Konggres diputuskan, PTPI yang dipimpinnya, bertindak selaku penyelenggara eksposisi seni rupa sebagai langkah awal dari kelahiran ASRI, Tahun 1950 ASRI berdiri dengan Direktur pertamanya RJ. Katamsi. Alasan pengangkatannya, karena dipandang Katamsi lebih tua usia dan dianggap cukup 'berwibawa'. Sedang Djajeng menjabat wakil . Dosen-dosennya antara lain Hendra Gunawan, Trubus, Kusnadi, Sudarso, Rusli, dll,dibantu tenaga administrasi dari Kementerian PP & K. Kini pelukis yang gemar menggambar wajah Diponegoro itu, menginjak masa senjanya. Usianya 75 tahun. Pendengarannya sudah berkurang namun tetap bersemangat jika bicara soal pendidikan dan nasionalisme Indonesia. Bahkan fisiknya kelihatan masih kokoh. Bermain tenis merupakan sarapan paginya setiap hari Selasa dan Sabtu, disamping senam dan jogging dilakukan setiap saat, kadang senam di dalam kamar dan di lapangan tenis. la berjalan kaki sejauh 500 meter dari rumah menuju lapangan. Sesekali digenjotnya sepeda, itulah resepnya awet muda ! "jaman Jepang saya juara tenis", kenangnya. Sejak dulu fisiknya memang sudah terlatih. Sehingga kalau kini kawan-kawannya sudah banyak yang 'bobrok', ia tetap tegar bersemangat. Semangat menggambarnya pun tetap menyala. Di studionya sebuah lukisan bergambar Pangeran Diponegoro masih belum rampung. Masih terpasang di penyangga kayu lukisnya. Sorot mata sang pangeran tajam, sementara jari-jemarinya mengisyaratkan satu komando. Lukisan itu, seperti biasa, dikerjakan secara naturalistik. Backgroundnya seperangkat persenjataan perang seperti tombak, panah dsb. Lalu di sudut kiri atas sang Pangeran terdapat sebait kalimat berbahasa dan huruf Jawa, Maju terus amuh mundur ! ( Maju terus pantang mundur ). Lukisan itu bertahun 1980, tapi kini tetap dianggap belum rampung. Tiga tahun lukisan itu menanti jamahan tangan Djajeng. "Cat bapak sudah habis, sementara cat 'Rembrant' kesukaannya sekarang sulit didapat", kata isterinya menjelaskan. Lagi pula hala harganya", lanjutnya. Lukisan Diponegoro ini, sebagian dikerjakan dengan cat merk Greco. Djajeng merasa tidak puas. Bahkan bagian tertentu, umpamanya penggarapan wayang kulit bergradasi, sulit di jangkau dengan cat murah semacam Greco. Menurut penjelasan isterinya. lukisan Djajeng jarang dijual. la merasa sayang pada karyanya. Kalaupun ada orang yang ingin mengkoleksinya, Djajeng hanya minta ditukar dengan cat Rembrant sebagai ganti bahan. Melukis pesanan potret acapkali dilakukan. Tarifnya Rp. 150.000,00 untuk ukuran 50 x 75 cm. Terakhir ia membesarkan potret Prof. Dr. Mubyarto. Namur macet, lantaran suatu sebab. "Jika melukis, bapak tak kenal waktu", ungkap bu Djajeng. Kadang dari jam lima pagi sampai larut malam, sampai beliau makan segala. Memang, proses kreatif seseorang dalam menuangkan ekspresi, tak bisa diganggu apapun. la seperti yang menggelinding di jalanan licin. Sulit terhenti sekalipun direm. Dan Djajeng Asmoro, yang lukisan Arjuna Wiwahanya pernah menjuarai Lomba Lukis se Asia Raya th. 1942, bagai roda yang senantiasa menggelinding. Berputar seirama jaman dan nafas kehidupan. Kini ia berada di pucuk perjalanan hidup ,sambil menatap lukisan Pangeran Diponegoro yang tak kunjung rampung. Djajeng memang butuh material demi ekspresinya !
|
|
|


