Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
238034 Total visits
204 Visits Today
5 Currently Online
DATA SENIMAN
Nama Kategori
HARDJO PAWIRO
« Kembali


Jenis Kelamin :
Laki-Laki

Tanggal Lahir :
12 Desember 1912

Alamat :
-

Website :

Email :

Kategori :
Teater (Dagelan)

» Klik disini untuk Daftar Karya HARDJO PAWIRO Dalam Galeri

Keterangan :

Seniman Dagelan (Lawak Daerah) yang telah berusia 70 tahunan ini hidup pada tiga jaman, jaman penjajahan Belanda, jaman pendudukan Jepang dan jaman Kemerdekaan Republik Indonesia.

Nama lengkapnya : Sapardjo Hardjopawiro. Lahir dari perkawinan : seorang ayah bernama Salamun Mintopawiro dan seorang ibu Nyi Tjiut. Nama yang selalu dipakai dalam melakukan tugas melawak dan dimasyarakat umum, khususnya masyarakat Yogyakarta, mengenalnya dengan nama : Hardjo Gepeng, atau Raden Gatutkaca.

Walaupun ia lahir bukan dari keturunan darah Seniman, tetapi sejak kecil ia menggeluti seni, dan olah seni adalah hidupnya yang sudah mendarah daging, ia tidak dapat bekerja lainnya, selain dibidang seni. Orang tua seniman ini tergolong orang yang mampu, ia mempunyai seperangkat gamelan, sehingga Sapardjo kecil berbakat ini selalu bergulat dan kesempat­an selalu memupuk bakatnya.

Sebelum ia sampai kepada kebolehannya yang sekarang, perjalanan hidupnya memang berliku-liku, dan hal ini ditempuhnya untuk mendapatkan pengalaman. Mula-mula ia berkecimpung dalam karawitan dan tembang, menciptakan lagu-lagu atau gending-gending ketoprak, juga ia seorang pemegang viul (biola) dalam iringan ketoprak sewaktu ketoprak menggunakan viul sebagai iringan adegan. Dalam pencarian pengalaman, banyak kota-kota yang dikunjunginya bersama-sama grup-grup Sandiwara ketoprak dimana ia sebagai anggotanya.

Pada sekitar tahun 1934 sampai sekitar tahun 1942, dari Yogyakarta ke Jakarta, Bandung, Cilacap dan lain-lain kota bersama Grup CORPIUS, dengan tujuan mencari nafkah pada grup komersil, dibawah pimpinan Tuan Menuk dan Tuan Pol.

Pada tahun 1961 sampai 1963, bergabung dengan Grup Srimulat Surabaya bersama rekan sekota asal Yogya Johni Gudel yang juga seorang pelawak.
Ia bersama grup ini keliling Jawa Timur, mengunjungi kota-kota seperti Malang, Surabaya dan lain-lain dengan tujuan komersil bersama
Grup Sri Mulat.

Pada tahun 1963 kembali ke Yogyakarta, kemudian menjadi karyawan pada Departemen Penerangan Yogyakarta, yang kemudian profesinya sebagai pelawak penerangan. Sejak tahun itu pula tugasnya menjadi semakin berat karena lalu berfungsi ganda, menghibur dan memberi penerangan, telah banyak kota di Jawa yang dikunjunginya hampir seluruh kota besar di Jawa ini. Sejak itu pula ia menetap di Yogyakarta dan bergabung pada Grup lawak Gudeg Yogya . Grup lawak Gudeg Yogya, yang beranggotakan: Hardjogepeng, Marsidah, Prapti, Darsono, Parmoso adalah Grup resmi milik Kanwil Dep. Penerangan Prop. DIY, yang selalu bertugas memberikan hiburan dan penerangan kepada masyarakat. Ia berpendapat dengan lawak mempunyai mission ganda yaitu lewat lawak ia ingin mendidik masyarakat untuk berbuat baik dan sopan disamping memberi hiburan. Menurutnya sekarang sarananya sudah maju dan cukup banyak, lewat RRI, TVRI, serta pentas-­pentas, sehingga semuanya mudah dilaksanakan. Disamping tugas-tugas instansi, ia masih juga melawak memenuhi undangan secara perorangan untuk perayaan atau hajat manten dan lain-lainnya. Tetapi bagaimanapun dalam olah melawaknya ia tidak dapat meninggalkan bahwa ia adalah pegawai Departemen Penerangan, dan mission penerangan ini selalu dibawa serta.

Kalau melawak penerangan itu hanya untuk tambah, tuturnya dengan tawa lebar. Waktu menjawab pertanyaan dimana ia merasa paling sukses, dituturkannya kalau hanya melawak saja waktu ia masih di Sri Mulat, karena dapat mengangkat nama Grup Sri Mulat dari Surabaya ini. Tetapi kalau marem (mantep) ya di Gudeg Yogya, karena disamping melawak ia ber­tanggung jawab menyampaikan pesan yang harus disiapkannya dalam olah lawaknya sebagai mission penerangan.

Seniman lawak tiga jaman ini, dari olah lawaknya telah ada yang direkam baik kaset ataupun piringan hitam antara lain piringan hitam oleh Lokananta Solo, dan perusahaan rekaman di Semarang sudah meliputi 100 buah lebih. Dan juga pernah mendapatkan kejuaraan lomba dagelan dan beberapa piagam penghargaan seni lainnya, yaitu : pernah menjadi juara III menembang yang diselenggarakan oleh Gembiroloka th. 1972, dan juara I lomba dagelan di Jakarta th. 1980, atas nama Grup Gudeg Yogya, disamping itu sebagai pegawai Departemen Penerangan ia telah mendapat Piagam Pena­taran P4, artinya ia adalah salah seorang yang turut serta menghayati dan mengamalkan Pancasila dengan benar lewat lawaknya. Dalam perkawinannya pada tahun 1939 mempunyai dua orang anak laki – laki yang semuanya juga pelawak. Konon istri, tercintanya ini juga seorang penari dan pemain ketoprak semasa mudanya. Tentang pendidikan formal yang diraihnya, hanya Sekolah Rakyat "Ongko Loro". Namun karena dukungan lingkungan dan masyarakat sekitarnya dan juga karena berguru kepada pengalaman, maka ia dapat mencapai karier yang namanya tidak dapat ditinggalkan dari kehidupan dan sejarah seni ketoprak dan lawak di Yogyakarta.

Meski usia telah 70 tahun, namun aktivitas dan kreativitasnya dalam lawak masih belum pudar. Hampir setiap malam bersama grupnya Gudeg Yogya mereka menghibur dan memberi penerangan kepada masyarakat. Juga Raden Gatutkaca alias Hardiogepeng, yang konon sewaktu ibunya hamil mengidam ikan lele, maka kemudian ia diberi nama Sapardjo alias Gepeng walaupun tidak gepeng (pipih kepalanya), Pak Spardjo Gepeng ini selalu memberikan bimbingan kepada generasi penerusnya yang menaruh pada olah seni lawak, khusunya di lingkungan pegawai Kanwil Depar­temen Penerangan Prop. DIY. Disebuah rumah yang tidak begitu besar tetapi bersih peninggalan orang tuanya di Kampung Gampingan RT 76, Kecamatan Yogyakarta, disinilah ia bermukim bersama keluarganya.