AGENDA KEGIATAN          iconrss
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
520905 Total visits
1076 Visits Today
9 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Kreasi Boneka Sampah : Agar Anak Tak di Ketiak Televisi



Penulis :
Lephen Purwaraharja

Edisi Mata Jendela:
3 / 2011 (Juli - September)

Isi Artikel:

Lephen Purwaraharja :

Kreasi Boneka Sampah: Agar Anak Tak di Ketiak Televisi

 

Adakah tayangan seni untuk anak di televisi? Ada, tetapi media televisi dominan menyajikan tayangan remaja dan dewasa. acara ‘seni tinggi’ untuk kaum remaja dan dewasa hanya sesekali muncul di layar kaca saat opening seremonial festival atau penghargaan tertentu. Selebihnya ‘seni dagangan’ yang hiruk pikuk silih berganti mengisinya. Lantas, dari televisi porsi seni anak dan anak-anak mendapatkan apa?

 

Untunglah ada tayangan televisi memberikan edukasi, informasi dan hiburan. Acara televisi favorit untuk anak tahun 2011 adalah Laptop Si Unyil, Idola Cilik (3),Dunia Bola, Si Kecil Berhati Besar, dan Cinta Juga Kuya (versi www.mediaanak indonesia.wordpress.com). laptop Si Unyil tayangan Tran 7, mengangkat kembali tokoh boneka Si Unyil yang baik dan cerdas, Pak Ogah yang malas, dan Pak Raden yang galak pernah populer tahun 1980-1n. tayangan Laptop Si Unyil bersifat edukatif, dengan materi pembuatan aneka produk pabrikan hingga rumahan. Laptop Si Unyil ditayangkan dengan penjelasan sederhana Si Unyil, didukung tokoh lain yang khas: Pak Ogah, dan Pak Raden, Usrok atau lainnya. Di era 80-an tokoh Si Unyil tentu sudah tidak asing lagi bagi persa TVRI. Bungkus makanan instan atau pabrikan itu bukan sampah. Bungkus dan bahan alami lainnya dapat dijadikan media bermain dan berosialisasi sehingga memberikan konteribusi bagi pengembangan kepribadian anak. Anak diberi bekal membuat boneka dari sampah atau barang bekas. Berbekal sebuah atau beberapa boneka kecil anak-anak dapat memainkan peran sebagai orangtua, maupun pengasuh boneka tersebut. Arahnya, anak akan lebih suka melakukan aktivitas jauh dari televisi, di dalam atau di luar rumah bersama teman sebayanya. Anak-anak membuat pertunjukan dan medium bermain sendiri tanpa menikmati tayangan televisi.

            Boneka dari sampah kemudian dijadikan boneka pertunjukan. Hal ini untuk mengoptimalisasikan fungsi boneka sebagai dongeng dan pesan moral maupun edukasi tertentu. Meniru modal pertunjukan Si Unyil, Kuncung Bawuk, dan sejenisnya dengan boneka dari ‘sampah’ maka anak-anak akan semakin menjauh dari televisi. Anak-anak tidak tercekoki oleh tayang yang tidak berfaedah untuk pengembangan potensi dan pribadi anak-anak.

            Apa gunanya anak-anak menyaksikan selebriti. Kini nyata, ada anak-anak usia dini (AUDI) dan anak sekolah dasar (ASEDA) banyak yang hafal ungkapan syahrini, “Alhamdulillah, sesuatu banget….” Di infotainment. Meski AUDI dan ASEDA tak tahu maksud ‘sesuatu banget’. Belum lagi bias tayangan sinetron ‘Opera sabun’ diberbagai stasiun nasional ditayangkan di jam utama, seperti Kupinang Engkau dengan Bismillah, Anugerah, dan sejenisnya. Semua pantas untuk pemirsa AUDI dan ASEDA? Belum lagi tontonan komedi Opera Van Java (OVJ) yang telah menjadi ‘candu’ pada anak-anak. Anak juga hafal lagu pop bertema ‘pubertas’ atau musik popyang ditayangkan pada Klik, Dahsyat, atau inbox. Anak-anak menjadi konsumen acara televisi yang tidak sesuai kematangan psikologisnya. Apalagi saat menyaksikan tayangan televisi tanpa bimbingan orang dewasa, jelas dicekoki acara televisi untuk umum (tayangan dewasa dan remaja). Mungkin, anak jadi matang sebelum saatnya!

            Belum lagi dampak iklan di televisi pada anak, Iklan berfungsi sebagai media pemasaran mulai menciptakan konsep kreatif yang efektif dan menggugah konsumen (Subakti, 2004: 17). Anak-anak dengan iklan di televisi didorong , digugah, dan ‘didoktrin’ sebagai konsumen aktif. Jelas bukan dididik menjadi anak yang produktif, produser aktif-kreatif.

 

Aktivitas ke Non Televisi

Televisi cenderung menyajikan monolog, sebab media pandang dengar itu yang menyampaikan informasi dan tayangan. Pemirsa cenderung tak bisa berdialog, menanyakan hal-hal yang belum dipahami atau diketahui. Sifat pemirsa pun pasif. Anak yang sering menyaksikan televisi pun menjadi terbiasa ‘pasif’ bahkan mencetak pribadi pemals, enggan membantu orang tua, bersosialisasi dengan kawan setetangga.

Anak pada masa keemasan, yaitu saat AUDI sebuah momentum revolusioner perkembangan pancaindra dan kecerdasan intelegensi maupun spiritual. Seyogyanya anak dibiasakan melakukan aktiovitas tanpa televisi. Biarlah AUDI di luar rumah bermain menyatu dengan alam, bersosial, bereligi, dan mencari tahu sesuatu yang ditemui. Alat peraba, pembau, penglihat, pendengar, dan pengecap pada anak perlu di stimulasi dengan berbagai aktivitas kreatif di alam terbuka. Latihan memegang dan menggerakkan benda dengan media alami yang ada di alam sekitar, mengenalkan ekologinya. Anak-anak perlu dikenalkan pohon, hewan, kebun, ladang, atau sawah dan jenis tanaman berguna. AUDI dapat dikenalkan medium ekspresi sederhana dengan bahan alam yang ada disekitar kita, seperti: menggambar di tanah, membuat boneka dan baju dari dedaunan. AUDI pun akan menjadi aktif dan kreatif serta mengenal dan memanfaatkan alam bagi kelangsungan hidupnya. Lebih baik lagi, jika AUDI dikenalkan dengan bentuk seremoni, upacara, seni tradisi atau hiburan rakyat. Semua ditujukan agar AUDI lebih responsip, menyerap pengalaman, dan bergerak belajar menghadapi berbagai kenyataan hidup.

Di rumah pun, setelah AUDI menjadi ASEDA harus dibimbing agar mengatur dirinya tidak kecanduan televisi. ASEDA diarahkan pada aktivitas bermain, berolah raga, dan belajar agama di lingkungan sosialnya. Pemotivasian ASEDA dengan hadiah dapat dilakukan untuk memompa motivasi mereka dalam menyelesaikan suatu karya atau aktivitas.

 

Lingkungan Sosial Budaya

Keberhasilan Laptop Si Unyil dan acara edukatif lainnya di televisi seyogyanya dapat dikembangkan di lingkungan sosial budaya AUDI dan ASEDA. Bentuk pertunjukan teater boneka seperti Si Unyil, Kuncung Bawuk, dan sejenisnya merupakan medium komu-nikasi menyampaikan berbagai hal dari pengetahuan umum sampai budi pekerti. Bila di setiap kampung atau dusun memiliki pertunjukan boneka dan setiap seminggu atau sebulan sekali dijadikan peretunjukan maka dapat mengurangi kecanduan AUDI dan ASEDA pada televisi.

Di sisi lain, hasil pelatihan dengan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Kulon Progo misalnya, dengan mengajarkan membuat boneka sebagai hiasan, ditingkatkan menjadi media bermain AUDI, dan pertunjukan boneka yang memikat sebagai tontonan dan tuntunan masyarakat, khususnya anak-anak. Tentu saja, perlu dengan pendampingan dan pelatihan agar faedah boneka yang dibuat AUDI lebih optimal dan maksimal.

Bentuk teater boneka dengan cerita dan nasehat di dalam kehidupan sehari-hari untuk AUDI dan ASEDA, seperti membersihkan rumah, melipat selimut, membentu mengambilkan sesuatu, sampai soal kedisiplinan dan membuang sampah pada tempatnya. Bentuk pertunjukan boneka dapat dirancang sesuai dengan tokoh dengan karakter yang sudah dikenal masyarakatnya. Ceritanya pun disesuaikan dengan kehidupan AUDI dan ASEDA

AUDI dan ASEDA diberikan stimulus membuat boneka dari bahan alami, atau bekas bungkus makanan pabrikan dengan berbagai corak warna, dan bahan. Kemudian boneka karya AUDI dan ASEDA dari bahan alam atau pabrikan diberikan karakter dan busana yang menarik dari bahan yang lain. Sejumlah boneka tersebut kemudian dimainkan dengan berbagai tema seperti: kebersihan, sopan santun, tolong menolong, toleran, dan sayang menyayangi. Tama dan cara memainkan bebas sesuai kehendak AUDI dan ASEDA. AUDI dan ASEDA akan asyik bermain bonekanya dan melupakan tayangan televisi. Jika pertunjukan boneka di televisi dinyatakan dalam kegiatan di luar televisi dan rumah telah berhasil, maka para AUDI dan ASEDA akan aktif sendiri dan bersama-sama membuat bentuk yang lain dan berangsur meninggalkan televisi.

AUDI dan ASEDA semestinya, dikreasi, dan dikenalkan lingkungan sosial budayanya, bangsa yang majemuk, bahasa yang heterogen, dan memerlukan sikap toleran serta saling menyayangi. AUDI dan ASEDA diberikan apresiasi membuat dan menyajikan pertunjukan boneka dengan memahami kesadaran multi etnis, yaitu adanya perbedaan agama, etnis, dan bahasa daerah bukan sebagai modal bermusuhan atau perpecahan, tetapi sarana menyatu dan meluluhkan diri untuk kepentingan dan tuju bersama. Bentuk pertunjukan teater boneka untuk AUDI dan ASEDA akan menjadi peluang yang besar menjadikan anak-anak Indonesia tidak lagi diketiak televisi, sesudah pulang sekolah, atau hari-hari kosongnya. Mereka akan berhimpun dan bermain, berkreasi dan berkarya dalam pertunjukan boneka yang secara langsung mengasah kepekaan solidaritas dan kebersamaan sebagai satu warga negara, warga bangsa Indonesia.

 

Lephen Purwaraharja adalah pamong pada Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Foto : Liputan Capri Sonne @ Laptop Si Unyil-Tran 7

Foto : agusmawardi.wordpress.com