AGENDA KEGIATAN          iconrss
-- Tidak ada agenda hari ini atau yang akan datang --
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
633573 Total visits
295 Visits Today
4 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Teater Tanah Air: Teater Anak Berprestasi Dunia, Membanggakan Indonesia



Penulis :
Dyan Chatra Kampassia Malaccenses

Edisi Mata Jendela:
3 / 2011 (Juli - September)

Isi Artikel:

Dyan Chatra Kompassia Malaccenses :

Teater Tanah Air : Teater Anak Berprestasi Dunia, Membanggakan Indonesia

Teater Tanah Air gagal ke mengikuti festival teater anak sedunia di Lingen, Jerman pada Juli 2010. padahal Teater Tanah Air pelangganan juara festival teater anak tingkat internasional. Adakah program dan alokasi anggaran untuk festival teater anak sedunia, wakil Indonesia, sebagaimana dukungan untuk kontes robot dan olimpiade sains?

Keberadaan teater anak di Indonesia masih langka. Perhatian dan dukungan semua pihak untuk mengembangkan prestasi, dan dinamika teater anak di Indonesia belum optimal. Hal ini berbeda dengan ajang kontes robot atau olimpiade sains tingkat nasional dan mewakili forum Internasional yang penuh fasilitas dan dukungan. Kegagalan Teater Air ikut hadir pada festival teater anak sedunia di Lingen Jerman menandaskan kurangnya perhatian dan dukungan nyata pemerintah Indonesia. Padahal seni teater berserta aspek kultural dan edukasinya, dapat dijadikan sebagai media ekspresi dan pembelajaran karakter bangsa atau budi pekerti luhur anak Indonesia. Apalagi, teater anak, sejenis Teater Air yang telah terbukti menghasilkan prestasi dunia dengan dukungan kuat dari budayawan Putu Wijaya dan Jose Rizal Manua. Kegiatan festival teater anak internasional merupakan ajak unjuk budaya Indonesia dan kreativitas anak Indonesia yang sederajat dengan tim sepak bola nasional, tim bulu tangkis, tim olimpiade olah raga, dan sejenisnya. Sudah saatnya, pejabat berwenang, instansi terkait, serta semua pihakbersama para kreator teater anak Indonesia merumuskan kebijakan keikutsertaan dan penyenlenggaraan festival teater anak tingkat dunia agar alokasi dana yang memadai tersedia.

Teater Tanah air

Sebelum terbentuk Teater Tanah Air, ada kelompok Teater Adinda di bentuk untuk anak-anak. Sebenarnya banyak teater anak yang tumbuh pada tahun 1970-an antara lain : Sanggar Teater Jakarta, Teater Sangrila, Sanggar Prakarya, kelompok teater bentukan Kak Yana dan sebagainya. Kemudian, di Jakarta muncul juga Teater Ananda, Teater Bobo, dan Teater Pandawa (Didi Widiatmoko).

Tahun 1974, pendiri Teater Tanah Air, Jose Rizal Manua, saat bekerja di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, sering didatangi ibu-ibu bersama anaknya yang ingin belajar teater. Animo dan ajakan ibu bersama anak-anak ke ian tahun 1975, banyak orang tua yang datang ke TIM berminat mendaftarkan anak-anak mereka untuk mengikuti teater anak. Motivasi orang tua dan anak semakin menguat, sehingga Jose Rizal Manua diskusi dengan orang tua mereka di TIM untuk membentuk teater anak. Dari animo anak-anak dan orang tua di Tim terbentuk Teater Adinda. Anggota pertama Teater Adinda adalah Deni Malik, yang sekarang berprofesi sebagai koregrafer tari. Kemudian tahun 1978 Dewan Kesenian Jakarta membuat Festival Teater Anak se-Jakarta pertama. Jose Rizak Manua mengikuti festival tersebut dan mendapatkan juara pertama. Tahun 1979 Festival Teater Anak diadakan kembali dan Teater Adinda menjadi juara pertama. Penghargaan juara pertama tersebut diperoleh kembali tahun 1981 dan 1982, untuk ketiga kalinya. Sehingga pada periode berikutnya, Teater Adinda tidak diperbolehkan mengikuti festival tersebut. Perkembangan selanjutnya tahun 1981 dan seterusnya, teater Adinda selalu mengadakan pentas rutin di TIM. Namun anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan berbagai macam kebutuhan serta persoalan grup maka Teater Adinda mulai ditinggalkan pendukungnya.

Jose Rizal Manua pernah menyutradarai Teater Legenda tahun 1981 – 1986 di TVRI setiap hari Minggu pukul 17.00 WIB dengan acara Cerita Untuk anak. Pada acara tersebut menceritakan tentang legenda rakyat misalnya Sangkuriang, Damar Wulan, Ande-Ande Lumut, Jaka Tarub, Jaka Tingkir, Rara Jonggrang dan lain-lain. Dan tahun 1986, Jose Rizal Manua mengikuti latihan di bengkel Teater dan mengikuti Workshop untuk pertunjukan ke Amerika dengan judul Selamatan Anak Cucu Sulaiman (Ritual Ceremony Children). Setelah dari Amerika, minat meneruskan acara di televisi mulai hilang sehingga Teater Legenda tidak dapat dilanjutkan dengan memproduksi karya-karya untuk televisi tersebut.

Tahun 1980 Jose Rizal Manua aktif dalam studi. Setelah itu terbentuklah Teater Tanah Air yang berdiri pada tanggal 14 September 1988 di Taman Ismail Marzuki, Jose Rizal Manua memilih nama Teater Tanah air karena mengandung nasionalisme dan pada perkembangannya label tersebut cukup tepat, karena justru membawa rejeki. Pada awalnya kelompok teater anak-anak ini bernama Teater Tanah dan Air, kemudian kata dan hilangnya agar lebih praktis menjadi Teater Tanah Air juga menyimbolkan sumber dari kehidupan.

Teater Anak, Teater Tanah Air

Pementasan dari Teater Tanah Air antara lain Si Badul dan ondel-ondel karya Arthur S. Nalan, Hamlet karya Willams Shakespeare terjemahan Rendra. Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Topeng karya Ilra Nagara, Si Jinak karyaMohamad Bilal, Pak Kikir karya Darlan Fatturrachman. Jayaprana karya Jeff Last. Terjemahan Rosihan Anwar, drama anak-anak Angsa Emas dan Putri Murung karya Lia Widya, Rashmon karya Ryunosuke Akutagawa. Terjemahan A. Djohan Nasution, Akal Bulus karya Deliana Surawidjaja, Cermat Nikmat Boros Keropos karya Muhammad Bilal, Api dan Darah karya Sjam Sjafii, Suling karya Sutjahjono R, Mahkamah karya Asrul Sani, Museng berjanggut karya Djamalui Abidin Ass (2002), teater seni rupa Bumi di Tangan Anak-anak karya Danarto (2004), drama musikal Kerajaan burung karya Saini KM (2005), Spectacle wow karya Putu Wijaya (2006). Jadi produksi dari Teater Tanah air ini dapat dikatakan mempunyai eksistensi yang menarik penonton untuk selalu mengikuti karya-karya terbaru dari teater anak dengan sutradara Jose Rizal Manua.

Teater Tanah Air merupakan media Jose Rizal Manua untuk bereksplorasi, berekspresi, bereksperimentasi, dan menjadi media aktualisasi diri. Pada perkembangannya, Teater Tanah Air juga mementaskan pertunjukan khusus untuk remaja. Pertunjukan Teater Tanah Air biasanya untuk anak-anak dan dewasa, tetapi jarang untuk remaja. Karena tema-tema drama remaja hanya dipentaskan di sekolah. Drama remaja yang diproduksi oleh Teater Tanah Air ini berjudul Bawang Merah, Bawang Putih dan Bawang Bombay.

Peran Jose Rizal Manua

Padahal tahun 2006, secara mengejutkan, sebuah pementasan Teater Tanah Air (TTA) dimainkan anak-anak Indonesia bertajuk Wow Karya Putu Wijaya meriah banyak penghargaan di jerman. Pementasan Wow mendominasi semua penghargaan 9 th World Festival of Children’s Theatre Lingen – Germany. Prestasi membanggakan yang diukir kelompok Teater Tanah Air dengan pentas Wow tersebut karena peran dan kreativitas Jose Rizal Manua, sebagai pelatih, pimpinan, dan sutradara yang peduli pada kreativitas anak. Teater Tanah Air senantiasa mengangkat idiom-idiom tradisi yang dilatuhkan untuk anak-anak yang di gagas Jose Rizal Manua dan di naskahkan Putu Wijaya menjadi naskah Wow. Metode yang digunakannya Jose Rizal Manua agar anak mampu dan membuat anak-anak belajar sekaligus bermain dalam proses pelatihan teater. Ia mampu menanamkan perasaan senang yang dapat memotivasi anak-anak dalam pembelajaran di Teater Tanah Air.

Ketertarikan Jose Rizal dalam mendirikan teater anak adalah mengenai keterbatasan dalam dirinya menguasai suatu bidang yaitu teater dan sastra. Teater Tanah Air sekarang mulai di kenal di negara luar atas prestasi yang diraihnya. Misalnya ketika pertunjukan di Jepang. TTA memperileh The Best performance dengan latihan tujuh bulan, begitu juga dengan pertunjukan di Jerman latihan selama tujuh bulan, sama halnya di Rusia juga tujuh bulan. Jadi bukan sulapan, itu semua adalah hasil dari kerja keras. Teater Tanah Air merupakan perkembangan dari pengalaman Jose Rizal Manua dengan dunia anak-anak dari tahun 1975-1981. jadi peran Jose Rizal Manua dalam mendirikan teater anak sangat mendukung perkembangan teater anak di Indonesia.

Jose Rizal Manua melatih Teater Tanah Air seorang diri, belum berani menggunakan asisten karena pola dan bentuk latihan yang dilakukan Jose berbeda dengan grup-grup lain. Kebanyakan latihan di beberapa grup teater terlalu banyak instruktif dari sutradaranya. Latihan langsung berhadapan dengan naskah biasanya kurang baik sebab pemain hanya akan menerima contoh-contoh sutradara, dan itu berarti pemain ini akan jadi aktor klise.

Di dalam melatih teater, Jose memberi nama latihannya adalah masuk ke dalam alam. Jose tidak pernah berhadapan langsung dengan naskah karena membuat kesan pertunjukan menjadi kering dan terlihat seperti mekanis.

Selama satu tahun Teater Tanah Air melakukan produksi satu hingga dua kali. Secara tidak sengaja mendapatkan kesempatan untuk mengikuti festival dan Jose selalu aktif melakukan reportoar di mana saja, tidak hanya di TIM. Anggota dari Teater Tanah Air setiap tahun terus meningkat. Karena Teater Tanah Air merupakan kelompok teater anak, maka keterbatasan usia sangat mempengaruhi anggota dari teater ini. Saat ini jumlah anak yang mengikuti latihan di TTA adalah 150 anak, dengan jadwal latihan rutin seminggu satu kali. Tetapi ketika mendekati pementasan latihan menjadi lebih padat yakni seminggu lima sampai enam kali. Target yang dicapai dalam produksi yaitu sekitar empat sampai lima bulan untuk memaksimalkan kekayaan dalam diri anak, kemudian latihan dasar menuju naskah. Dengan jumlah anggota yang banyak maka setiap mengikuti festival teater anak dunia diadakan koleksi terlebih dahulu pada setiap individu, karena jumlah anak ditentukan oleh panitia yakni sepuluh sampai lima belas anak.

Berbeda dengan kelompok teater anak lainnya, Teater Tanah Air selalu mementaskan reportoar yang baru. Metode latihan dengan eksporasi terlebih dahulu yang dikaitkan dengan naskah kemudian dilakukan identifikasi. Saat dilakukan identifikasi maka para pendukung akan melihat apa yang dia dapat dan dikembangsesuaikan potensi dan kemampuannya. Jose Rizal manusia menggunakan metode identifikasi hingga anak akan menyadari dirinya setelah memasuki naskah.

Prestasi dan Penghargaan

Prestasi yang telah diraih Teater Tanah Air hingga internasional antara lain pada pentas Bumi di tangan anak-anak di Jepang pada tahun 2004 meraih sepuluh medali emas dan meraih penghargaan The Best Performance; pementasan WOW telah berhasil mendapatkan 19 medali emas termasuk Best Performance & Best Director dalam Festival Teater Anak Dunia ke-19 di Lingen Jerman pada 14 – 22 Juli 2006; Spectacle peace memperoleh pridikat The Best Performance dalam 10 th World Festival of Children’s Theatre di Moskow, Rusia, pada 17 -25 Juli 2008 dan pada tanggal 20 November 2008, Spectacle Peace ini dipentaskan kembali di markas besar PBB Geneva, Swiss.

Teater Tanah Air dengan pimpinan Jose Rizal Manua mendapat respon bagus di seluruh dunia terutama pada pentas Wow harapan dari Jose bahwa prestasi yang diraih Teater Tanah Air dapat memacu teater anak-anak lainnya di seluruh penjuru tanah air. Salah satunya adalah memberi semangat kepada tokoh teater anak-anak untuk beraktivitas bahwa teater anak-anak di Indonesia sebenarnya mempunyai potensi teater anak-anak di dunia. Dengan demikian teater anak-anak di Indonesia tidak kalah dengan teater anak-anak di Dunia, salah satu contoh dalam pentas Wow dengan sutradara Jose Rizal Manua. Jose Rizal Manua dan TTA belum tau ke depannya, tentang TTA atas kegagalan undangan festival teater anak empat tahunan di Jerman yang merupakan puncak festival dua tahunan yang di adakan di Jepang dan Rusia. “TTA mau main di mana pun asalnya semua akomodasi, transportasi dibiayai oleh yang mengundang, tidak pentas keluar negeri pun tidak apa-apa, tegas Jose Rizal Manua, ketika pentas Zero Teater Tanah air di Mimbar Teater Indonesia, di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, bulan September 2010 yang lalu.

Sayangnya, harapan Jose Rizal Manua, jau panggang dari api. Produksi Teater Tanah air dengan repertoan Zero karya Putu Wijaya tidak bisa mengikuti festival teater anak se dunia di Lingen, jerman, karena selain dukungan dana yang minimal dari pemerintah juga kebijakan dari lintas sektoral biorkrasi yang belum terkoordinasi dengan baik, yaitu menkokesra. Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta Kemendiknas maupun Sekreariat Negara Republik Indonesia.

1. Japi Tambayong. Dasar-dasar Dramaturgi, Bandung: Pustaka Prima, 1981 p.97

2. Uche Ismail, Teater Tanah Air Lolos ke Jerman, Getar edisi VIII, 2006. p.30.

Wawancara dengan Jose Rizal Manua di Taman ismail Marzuki pada tanggal 21 Maret 2009 pukul 17.00 WIB

Dyan Chatra Kompassia Malaccensese, alumni Teater ISI Yogyakarta, pernah mengkaji teater ana Teater Tanah Air, di Jakarta, sekaligus melakukan wawancara dengan Jose Rizal Manua ketika di Surakarta, pertunjukan Zero dipentaskan pada mimbar Teater Indonesia 2010.

Belajar dari kegagalan TTA

berangkat ke Jerman 2010

Kronologis gagalnya Tim Teater Tanah Air (TTA) untuk mengikuti Festival Teater Anak se-Dunia di Jerman, bulan Juli 2010, menurut Jose Rizal Manua dan Tim Produksi Zero Teater Tanah Air :

Bulan Januari 2010 menyiapkan proprosal dan produksi Zero dimainkan anak-anak untuk festival Teater Anak se-Dunia di Lingen, Jerman.

Biaya produksi Zero TTA dan keberangkatan dari sumber dana bersama, Menkokesra, Depdiknas, Menbudpar, dan Kementrian Luar Negeri sekitar Rp 500 juta.

Pihak Kementrian Luar Negeri RI hanya sebagai fasilitator Tim Zero TTA ke Jerman.

Pada 25 Mei 2010 pihak Kementrian Luar Negeri RI meminta data dan paspor asli untuk mengurus dokumen keberangkatan ke Jerman.

Pada 1 Juni 2010, dokumen Tim produksi Zero TTA tiba-tiba semua dokumen paspor dikembalikan dari Kementrian Luar Negeri.

Pada 1 Juni 2010 Kementrian Luar Negeri tidak dapat ditemui dan dapat dihubungi sampai tanggal 19 itu pun hanya melalui sms.

Tanggal 7 Juni 2010 kami datang Kementrian Luar Negeri dengan penuh keyakinan namun ternyata nama kita tidak tercantumkan. Kami menghubungi pimpinan namun tidak diangkat, setelah kita hubungi pakai no lain diangkat dan mengatakan “Kita lagi e-mail ni” kata bagian visa, dikatakan ada pada Pak Udin. Tim Zero TTA meminta pertanggungjawaban Kementrian Luar Negeri namun harus ada uang jaminan Rp 200 juta. Padahal Tim Zero TTA untuk di Jerman di tanggung oleh Panitia Festival Teater Anak se-Dunia, termasuk uang jaminan dan ansuransi selama di jerman dengan dokumennya.

Pada 14 Juli 2010 Tim Zero TTA bertahan tetap agar dapat ikut pada Festival Teater Anak se-Dunia di jerman, namun pihak Garuda pun tidak memastikan tanggal perubahan 14 Juli, mundur tanggal 22 Juli 2010.

Lalu tanggal 8 appointment masuk jam 10 akan tetapi ditolak.

Menkokesra membuat surat kepada Duta Besar jerman, dan Tim Zero TTAdatang tanggal 14 Juli 2010 untuk bertemu dengan petugas visa dan katanya sudah menghubungi namun di tolak. Saat mental dan psikologi anak-anak Zero TTA jadi turun dan mentalnya anjlok.

Pada 16 Juli 2010 Jose Rizal Manua dan Tim Produksi Zero TTA sudah mendapatkan tiket pesawat dan siap berangkat ke Jerman.

Pada 19 Juli 2010, Tim Teater Anak zero TTA datang ke Kementrian Luar Neheri dan hanya ditemui staf Bagian Publikasi Umum. Semua berkas dikembalikan tanpa alasan dan hanya memberikan secarik nota.

Grup TTA dengan Zero-nya sudah di tunggu oleh semua peserta Festival Teater Anak se-Dunia di Jerman.

Pada 21 Juli 2010, orang tua Putri Zanaya, salah satu pemain Zero, adalah staf ahli Presiden Wilayah Indonesia Timur, Pak feri memberikan fasilitas untuk bertemu pihak Kementrian Luar Negeri, atau paling tidak pejabat dirjen.

Semua saya hubungkan surat menyutar saya hanya ditemui oleh staf publikasi diplomasi publik.

Tiba-tiba dari Departemen Luar Negeri, dengan dua dirjen turun dan mengatakan kepada staf ahli “jangan khawatir, nanti kita akan bantu”.

Pak Feri menanyakan apa yang ada di pihak Kementrian Luar Negeri tanggal 19 Mei hingga 4 Juni 2010, ada komunikasi tidak? Bang Jose Rizal Manua menjawab, “Pihak Kemenlu tidak dapat ditelepon atau jika dihubungi via telepon tidak pernah diangkat”.

Di kedutaan jerman kita dipersulit karena mengajukan visa kurang dari dua minggu. Juga soal status rombongan TTA Zero ke Jerman, harus memiliki pertanggungjawaban secara hukum dan harus melalui pengadilan negeri, artinya mengurus visanya dulu yang lain menyusul, tapi sampai sana harus sejalan. Pengadilan Negeri Jakarta terganjal karena TTA dengan anak-anak dikira komplotan peragangan anak.

Kami tidak menyalahkan pihak Jerman. Tapi kenapa dari Kementrian Luar Negeri tidak mengembalikan semua berkas-berkas kami padahal tidak cukup kalau hanya 10 hari minimal 2 minggu atau mengurus visa. Ada penyanggahan dari Kedutaan Besar Jerman soal pengajuan visa yang diatur minimal 2 minggu.

Ada ketakutan dari Kementrian Luar Negeri RI bahwa mereka nanti akan menjamin mereka disana sekitar 700 juta, itu semua ada suratnya dan sudah dilampirkan lengkap.

Kemenlu RI tidak difasilitasi padahal kita membawa nama bangsa, kita semua anak-anak TTA menangis, karena jika melalui (dengan border pass antara Amsterdam) dan Jerman Panitia Festival Teater Anak se-Dunia tidak bisa menjamin karena 28 orang.

Tanggal 22 Juli 2010, Tim TTA Zero diminta datang dari kedutaan setelah ada campur tangan Pak Felik, Staf Ahli Kepresidenan di Kementrian Luar Negeri.

Pada 19 Mei sampai 14 Juni 2010 pihak berwenang di Kementrian Luar Negeri tanpa memberikan respon yang jelas. Pihak Kementrian Luar Negeri heran kalau TTA bisa membawa Staf Ahli Presiden RI. Jam 8 pagi kami sudah sampai di Kementrian Luar Negeri, mereka panik karena TTA sudah di tunggu-tunggu dan mereka telpon langsung ke Kedutaan jerman.

Mereka menyalahkan kita katanya mengada-ada, Tim TTA langsung menjawab soal uang jaminan Rp 200 juta.

Pada 23 Juli 2010, Panitia Festival Teater Anak se-Dunia di Jerman sedih karena Tim Zero TTA dari Indonesia tidak hadir karena tidak mendapatkan visa. Namun lagu Indonesia Raya tetap dinyanyikan, dan bendera Sang Saka Merah Putik tetap dipasang sampai akhir penutupan festival penuh harap bisa hadir dan main pada saat malam penutupan. Tim Zero TTA dan Indonesia kena blacklist, sangat menyakitkan. Negara Indonesia menjadi jelek, dan diblacklist karena komitmennya tidak ada.

Sumber : wawancara dengan Jose Rizal Manua dan Tim Produksi Zero TTA di Mimbar Teater Indonesia, Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 2010.