AGENDA KEGIATAN          iconrss
-- Tidak ada agenda hari ini atau yang akan datang --
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
668070 Total visits
548 Visits Today
10 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Art For Children: Merawat Dunia Seni Anak-anak



Penulis :
Nanang Arizona

Edisi Mata Jendela:
3 / 2011 (Juli - September)

Isi Artikel:

Art For Chidren : Merawat Dunia Seni Anak-anak

 

 

AFC (Art For Chidren), salah satu program Taman Budaya Yogyakarta yang dilaksanakan terkait dengan laboratorium seni adalah bimbingan dan pelatihan seni untuk anak-anak.

 

AFC sebagai wadah bimbingan dan pelatihan seni untuk anak-anak dan generasi muda kini telan menapak usia delapan tahun, bergerak hampir di semua ranah seni, mulai dari seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Hasilnya dapat dilihat. Setidaknya pada pameran seni rupa dan pergelaran di setiap akhir tahun. Pameran dan pergelaran itu bukanlah satu-satunya capaian AFC, lebih penting dari itu adalah bagaimana anak-anak mampu mengembangkan potensinya, kepekaan sosialnya, dan kecintaannya pada seni.

          AfC pada mulanya digagas sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan dirinya dalam berolah seni. Gagasan itu dilatarbelakangi berbagai kecemasan tentang dunia anak-anak yang makin hari makin didera berbagai hasrat yang ujung-ujungnya menjauhkan anak-anak dari dunianya sendiri. Dunia anak-anak yang dibayangkan para penggagas AFC adalah dunia yang meletakkan anak-anak sebagai subyek dalam mewujudkan kreativitasnya. Realitas yang terjadi sering sebaliknya, anak-anak menjadi obyek hasrat orang tua, hasrat ekonomi, dan hasrat ranah seni yang kapitalistik.

          Orang tua, sosok utama yang dominan, tanpa disadari sering menjadi sosok yang justru merampas dunia anak-anak. Dominasi orang tua adalah dominasi dalam menentukan anak-anaknya memasuki ruang-ruang sosial budaya di mana anak-anak menyedap berbagai asupan yang membentuk diri. Orang tua dengan segala daya upaya berduyun-duyun diruang-ruang sosial dan budaya yang diangankan mampu mengantarkan anaknya pada jenjang prestasi yang tinggi. Sering orang tua tidak menyadari bahwa hasrat yang mulia itu justru memerosokkan anaknya pada pusaran yang memupus kreativitas anak.

          Imajinasi anak dengan logika yang sering tak terduga turut pupus. Dunia imajinasi anak menjadi tidak terawat. Imajinasi yang tidak terawat, akan kehilangan daya lentingnya dalam menciptakan pembayangan-pembayangan khas anak-anak yang tidak dimiliki orang dewasa. Hal ini akibat struktur mental anak yang didominasi hasrat liyan, sehingga anak kehilangan dalam proses menghadirkan pembayang-pembayangan tentang dunianya sendiri.

          Sekedar contoh tak terawatnya imajinasi bisa kita jumpai dalam dunia seni rupa anak-anak. Bagi yang sempat mencermati dunia seni rupa anak-anak, pasti sering menemukan karya anak-anak yang memiliki ekspresi yang seragam. Teknik mengekspresikan warna sama, teknik pengkomposisian yang sama, deformasi bentuk sama, dan seterusnya. Ini contoh yang usang, tetapi menjadi demam yang mencemaskan bagi anak-anak. Sederet realitas lain dari ranah seni yang lain akan mudah kita jumpai. Anak-anak menjadi dai yang fasih menasehati orang tua. Tuturan anak-anak dalam berkomunikasi adalah cara bertutur orang dewasa yang menanamkan hasratnya pada para dai cilik itu. Dunia anak-anak yang hilang itu dapat pula dijumpai dalam dunia tarik suara. Anak-anak melantunkan lirik-lirik lagu yang jauh melampaui usianya. Anak-anak tiba-tiba menumpukkan hidupnya untuk menjadi idola. Memang tidak sepenuhnya buruk bagi anak-anak, tapi benarkah dunia semacam itu yang dibutuhkan anak-anak?

          Jika mau dilacak muara persoalannya, tentu amatlah kompleks dan teramat sering diwacanakan. Misalnya tentang global village yang digagas Marshall Mcluhan. Tentang sistem pendidikan yang tidak berpihak pada ranah kreativitas, tetapi memuja aspek kognitir semata. Tentang sistem kapitalistik yang merasuk sampai ke urat-urat kehidupan manusia. Semuanya turut berkontribusi tanpa bisa dihindari. Memupus imajinasi anak-anak unik dan sering tak terduga.

          AFC menyadari bahwa ruang yang diciptakan tidak akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang menimpa dunia anak-anak. AFC digagas sebagai ruang alternatif bagi anak-anak untuk kembali menemukan dunianya. Semacam ruang dimana terdapat mata air kecil bagi anak-anak membasuh diri agar memperoleh sedikit kejernihan dan kesejukan. Ruang di mana anak-anak bergembira dan nyaman mengekspresikan dirinya melalui media seni. Anak-anak dituntun pulang ke dalam dirinya untuk merawat kembali imajinasinya.

 

Seni sebagai media Belajar

AFC pada mulanya digagas oleh Dra. Dyan Anggraini yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Yogyakarta bersama beberapa seniman dan budayawan yang peduli dengan dunia anak-anak. Gagasannya bertolak dari kecemasan-kecemasan yang melihat anak-anak yang pelan-pelan tapi pasti jauh dari dunianya sendiri. Dibayangkan waktu itu, bagaimana menciptakan ruang bagi anak-anak agar mampu memiliki kembali hak-haknya sebagai anak. Dari diskusi panjang, maka digagaslah dan bimbingan seni untuk anak-anak.

          Pelatihan dan bimbingan yang dibayangkan adalah sebuah ruang yang tidak hanya melatih anak-anak terampil berolah seni. Lebih dari itu, anak-anak mampu mengembangkan seluruh potensinya, baik potensi bidang seni maupun sosial. Dibayangkan anak-anak juga memiliki kepekaan mampu mengembangkan kebersamaan, berbagai kasih, tidak individualistis, menghargai orang lain dan menanamkan bibit kemandirian. AFC tidak mencetak anak menjadi seniman-seniman kecil. AFC semacam ruang belajar bersama menemukan cara menjadi yang kreatif. Pendeknya program pembelajaran AFC mengendepankan bermain sambil belajar.

          Bayangan-bayangan itu, konkritnya melahirkan konsep AFC yang meletakkan seni bukan semata-mata sebagai ekspresi estetika, tetapi seni sebagai media pembelajaran bersama. Seni sebagai jalan untuk menemukan potensi lain yang ada pada anak. Pendekatan pembelajaran semacam itu, akan menekankan pada proses belajar melalui seni. Seni adalah cara membuka kemungkinan-kemungkinan bagi tumbuhkembangnya pribadi anak yang unik. Sesuatu yang murni ekspresi anak-anak. Oleh karena itu, tidak ada tempat bagi penyeragaman berekspresi.

          Metode pembelajaran mengedepankan partisipasi anak secara maksimal. Pembimbing bukan sebagai guru, melainkan sebagai teman bermain bersama. Dalam proses bermain bersama-sama itulah, pembimbing membuka katub-katub ekspresi kreatif anak-anak. Pembimbing memberikan dasar-dasar berolah seni sebagai cara membuka katub-katub itu. Di mana akhirnya anak-anak dilantarkan pada keunikan masing-masing dalam berekspresi.

Cara-cara di atas ditempuh agar AFC tidak saja berbeda dengan sanggar-sanggar seni yang lain. Sanggar-sanggar yang semata-mata memberikan keterampilan teknis dalam berekspresi. Lebih penting dari itu, AFC memilih menyemai, memupuk, dan merawat bibit-bibit yang kelak diharapkan tumbuh menjadi tanaman yang beraneka. Demikianlah pembelajaran seni yang diangankan AFC.

 

Enam Bidang Seni di AFC

Anak-anak yang berminat di AFC boleh memilih salah satu dari enam seni yang ada, yaitu seni rupa, seni Musik, seni vocal, dan seni teater. Masing-masing bidang seni didampingi oleh pembimbing yang berkompeten di bidangnya. Anak-anak hanya bisa memilih salah satu bidang seni, karena proses pembelajaran enam bidang seni berjalan serentak dalam waktu yang bersama.

Seni rupa didampingi Yuswantoro Adi, Dwi Winarsih, dan Fajar. Seni vocal didampingi oleh Sigit Eko Riyanto dan Satya. Seni tari anak klasik didampingi Theresia Wulandari dan Putria Retno Dewi. Sementara seni tari anak kreasi baru didampingi oleh Rahayu Slamet dan Utik Wisni. Musik anak didampingi oleh Dewi dan Adi Darmawan. Seni teater anak didampingi oleh Broto Wijayanto. Sementara tata kelola AFC berada dibawah koordinator Dra. Eka Kusumaning Ayu beberapa pendamping.

Ketika anak-anak makin tumbuh dan beranjak dewasa, maka dibutuhkan ruang pembelajaran yang berbeda. Realitas ini mendorong AFC untuk membuka bimbingan dan pelatihan seni untuk remaja. Pada mulanya, AFC remaja sebatas mengakomodir anak-anak AFC yang telah beranjak remaja. Dalam perkembangannya AFC remaja membuka diri untuk siapa saja yang berminat. Bimbingan seni untuk remaja mencakup bidang seni tari klasik, seni vocal, dan seni teater.

Jika dilihat dari keenam bidang seni tersebut, tampak bahwa afc bergerak dalam dua ranah yaitu seni tradisi dan modern. Dalam ranah seni tradisi, masih dibagi antara yang klasik dengan yang kreasi baru. Hal ini tampak pada seni tari. Oleh karena itu, masing-masing memiliki dasar fisosofis yang berbeda. Tari klasik tentu saja memiliki metode dan teknik yang dibakukan, sementara yang kreasi baru lebih bersifat terbuka dengan ragam gerak yang baru pula.

Tari klasik, baik untuk anak-anak dan remaja menekankan pada pentingnya penanaman nilai-nilai tradisi pada anak-anak. Bahwa dibalik keterampilan mengolah gerak, anak-anak sekaligus belajar merawat nilai-nilai yang terkandung dalam gerak tari. Dalam tari klasik untuk anak-anak diajarkan tari Nawung Sekar, Sekar Putri, Sari Kusuma, Puspitasari, dan golek Surung Ndayung. Sementara, tari klasik remajs diajarkan tari Sari Tunggal, Golek Bawaraga dan Srimpi Pandelori. Sebagaimana seni klasik, maka secara teknik memiliki tata gerak dan prinsip-prinsip estetik yang baku.

Seni vocal juga memiliki mekanisme dan tahapan pembelajaran yang telah digariskan. Anak-anak harus menguasai teknik pernafasan dan teknik vocal yang benar sebelum menyanyi. Anak-anak juga harus mampu melakukan interpretasi terhadap lagu agar makna lagu terjaga. Artikulasi, dan pembawaan mendapatkan prioritas agar penampilan terjaga. Melalui pembelajaran semacam ini, secara tidak langsung anak-anak mengenal karakter suaranya. Memupuk empati ketika bersentuhan dengan lirik dan nada-nada yang diekspresikan.

Seni menjadi sebuah cara mengenal yang tersimpan dalam setiap anak. Termasuk dalam memupuk kepekaan dan keterampilan mengolah unsur-unsur visual. Sejak awal telah diangankan bahwa pembelajaran seni di AFC menolak penyeragaman. Seni rupa dapat di jadikan contoh tentang penolakan penyeragaman dengan cara mengenal, merespon, mengeksplorasi, dan mengkreasikan bermacam-macam media. Proses pembelajaran seni rupa menanamkan sejak dini, bahwa seni rupa memiliki lingkup yang luas.

Anak-anak belajar melukis, membuat komik, kartun, bermain dengan print, dan seterusnya. Media yang digunakan juga beragam, mulai dari pensil, pastel, cat air, akrilik, dan menggunakan berbagai media campuran. Upaya ini untuk membuka seluas-luasnya terhadap berbagai kemungkinan dalam melakukan eksplorasi terhadap media. Eksplorasi yang dilakukan tidak hanya berhenti pada tataran menggambar dwimatra, tetapi juga membentuk atau making.

Anak-anak diantarkan padaproses penjajagan karya visual lebih luas, yaitu pada penciptaan karya tiga dimensi. Anak-anak membuat patung, keramik, boneka, dan beragam mainan. Media apa pun yang memiliki potensi untuk diolah menjadi karya rupa dicoba dan didikenalkan pada anak-anak. Eksplorasi semacam ini menanamkan pada anak-anak bahwa setiap benda memiliki potensi untuk dijadikan media ekspresi. Bentuk-bentuk baru dengan media yang baru pula, akan membantu memberikan bentuk pada pengalaman-pengalaman dan memori-memori anak yang bersifat personal. Dengan demikian akan memunculkan keunikan-keunikan yang tersembunyi pada diri anak-anak.

Dalam bidang seni teater, pengolahan potensi anak tidak semata diarahkan pada keterampilan berakting. Anak-anak sambil bermain, mengenal emosinya, belajar bagaimana emosi itu dikelola, belajar mengekspresikan emosinya, menuangkan pikiran-pikirannya dalam suatu kerja kolektif. Anak-anak juga mengenaldan menyelami berbagai narasi yang muncul dari lakon-lakon yang dimainkan. Anak-anak juga diberi ruang untuk menyusun kisahnya sendiri. Anak-anak dituntut untuk belajar mendengarkan dan berbagi.

Pembelajaran seni sebagaimana diangankan AFC menjadi suatu yang tampak ideal. Memang begitulah seni ketika disikapisebagai suatu cara untuk mengurai banyak hal yang tersimpan dalam setiap individu. Cita-cita macam itulah yang hendak diraih AFC. AFC merawat dunia seni anak-anak agar anak-anak memperoleh kembali hak-haknya sebagai anak.

 

Nanang Arisona, salah satu kurator dan pengiat kegiatan AFC Taman Budaya DIY, juga dosen Jurusan Teater ISI Yogyakarta.