AGENDA KEGIATAN          iconrss
-- Tidak ada agenda hari ini atau yang akan datang --
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
633969 Total visits
691 Visits Today
4 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Tenun Ikat Dayak: Ekspresi Kosmologis Manusia Dayak



Penulis :
Asriyadi Alexander Mering

Edisi Mata Jendela:
4 / 2010 (Oktober - Desember)

Isi Artikel:

 

Asriyadi Alexander Mering

Tenun ikat dayak :

Ekspresi Kosmologis Manusia Dayak.

 

SEBAGAI salah satu unsure kekayana budaya, tenun ikat Dayak khususnya yang ada di Kabupaten Sintang. Yaitu Dayak Ketungau dan Dayak Desa, selama ini hanya tersimpan begitu saja dalam lumbung-lumbung kebudayaan. Bahkan berbagai kisah yang berupa tradisi lisan dan beberapa bentuk ritual yang menyertai kehidupan serta eksistensi tenun ikat ini telah banyak yang hilang, penuh terkubur bersama rumah netang, sejarah dan waktu.

 

Di Kabupaten Sintang (Dayak Ketunau dan Dayak Desa) sendiri, tenun ikat Dayak semakin tak popular dikalangan gadis-gadis Dayak. Bahkan sedikit sekali wanita Dayak pasca rumah betang yang mau menekuni tenun ikat ini. Beberapa karya tenun ikat masih dipelihara dan disimpan oleh para keturunan mereka yang kebanyakan tak lagi mengerti makna maupun cerita yang tersirat dalam berbagai motif di dalam tenun ikat tersebut. Pada mulanya, pembuatan sebuah kain tenun ikat merupakan suatu rangkaian upacara tersendiri. Di sini tenun ikat dipandang bukan lagi hanya sekadar sebagai sebuah karya semata-mata tetapi juga sebagai pengkosmos: sebagai sesuatu yang memiliki roh dan energi hidup, sesuatu yang sacral, yang mampu memberi tempat bagi pertemuan antara yang realitas fisik dan metafisik magis. Kehidupan manusia Dayak yang telah ditempa oleh alam, oleh waktu, dan berbagai fenomena jagad telah membuatnya memiliki suatu pemahaman tertentu yang terkonsentrasi menjadi suatu kristalisasi format tertentu pula.

            Kita bisa melihatnya dalam tradisi lisan Dayak atau cerita-cerita Dayak Ketungau dan Dayak Desa. Dalam berbagai bentuk ritus kehidupan (upacara-upacara riyual dan sebagainya), penggunaan lambing-lambang termasuk juga tenun ikat Dayak yang merupakan salah satu komponen dalam satu kesatuan proses bagaimana manusia dayak telah menjaga keseimbangan tatanan kehidupan jagad agar tetap selaras. Lebih jauh lagi tenun ikat Dayak di sini telah mengejewantahkan suatu ide hierofani: percampuran antara keindahan dan kesakralan, sebagai suatu ekspresi kosmologi manusia Dayak dimana tenun ikat itu telah dilahirkan. Hadir dan melembaga menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari seluruh fenomena kehidupan manusia Dayak dan semesta raya yang maha luas ini.

            Paham studi kemasyarakatan pada umumnya, sering kita temui betapa pun sederhananya suatu masyarakat pasti memiliki tradisi, nialai-nilai atau konsep-konsep budaya tertentu. Kaum ekopopulisme seperti Robert Chambers, Marcel Rutten, Venema dan lain sebagainya bahkan telah memusatkan perhatian mereka ke wilayah kajian ini sudah lebih awal. Di mana golongan (yang kaum positivisme Eropa) dulunya pernah dianggap barbaric, savage, dan uncivitalized, ternyata banyak sekali menyimpan kekayaan dalam lumbung-lumbung kebudayaan mereka berupa pengetahuan asal (indigenous knowiedge) dan kearifan-kearifan tertentu.

            Misalnya saja, pengetahuan rakyat tentang tanah, tetumbuhan, perilaku iklim, hama, penyakit-penyakit, atau pengetahuan yang tersirat dalam syair-syair lagu, peribahasa dan cerita-cerita yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Atau, pengetahuan yang dimiliki oleh para pakar local seperti para peracik obat-obatan, pawing hujan, pemimpin upacara-upacara suci (Ton Dietz, 1998).

            Dari judul yang cukup luas di atas, maka dalam hal tulisan ini, (berdasarkan pengalaman penulis selama mengadakan penelitian tentang tenun ikat Dayak di beberapa daerah di Kabupaten sintang bersama dengan Albert Rufinus), maka penulis akan mencoba lebih memusatkan perhatian, serta menyoroti keberadan tenun ikat Dayak khususnya yang ada di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat sebagai suatu wujud maupun konsep budaya yang merupakan blue print kehidupan manusia Dayak yang tampak. Sebagai satu kesatuan kosmologi bersama sekian ribu milyar gugus partikel alam yang ada di jagad ini.



Kain Tenun Ikat

 

            Menurut Irene Emery, salah satu pakar penggolongan serat terkemuka di dunia, kata asal dari semua bentuk serat adalah textile yang berasal dari bahasa Latin texere, menenun, yang merujuk secara khusus pada tenunan yaitu tindih meninduhnya benang yang dilontarkan oleh torak (Abdullah Alamudi, 1990). Tenun ikat yang dimaksud di sini adalah suatu proses menenun yang dimulai dari proses awal pembuatan kapas menjadi benang. System pewarnaannya dengan jalan mengikat bagian-bagian tertentu dan kemudian mencelupnya. Selain itu, masyarakat Dayak setempat juga mengenal kain songket (kain sungkit) yang corak dan motifnya maupun proses pembuatannya agak berbeda dengan kain tenun ikat yang menjadi focus pembicaraan dalam tulisan ini.

            Ada pun kain tenun ikat yang dimaksud di sini adalah kain tenun yang merupakan hasil gagasan asli, muncul dari proses kegiatan kebudayaan manusia Dayak yang ada di kabupaten Sintang dan sekitarnya. Atau kai tenun yang lahir, diciptakan dan diproses secara alami, lewat tata aturan tertentu, tradisional, dengan mengunakan bahan-bahan alami dari tumbuhan maupun hewan yang banyak terdapat disekitar lingkungan masyarakat setempat saat itu. Misalnya, kapas yang terlebih dahulu harus dicincang dijemur, dicincang sekali lagi dan kemudian berulah dipintal menjadi benang. Lantas, bahan-bahan pewarna yang langsung diambil dari alam dan lain sebagainya, menurut pengetahuan para penenun asli masyarakat setempat. Pembatasan ini dipandang perlu mengingat adanya perbedaan antara tenun ikat Dayak yang asli dengan jenis tenun ikat yang sekarang banyak di produksi dengan menggunakan benang (bahan jadi) dan zat pewarna naftol. Sehingga tentu saja beberapa proses yang mengandung nilai ritual bagi sebuah tenun ikat tidak lagi dilaksanakan. Seperti misalnya, mencampur beberapa zat pewarna tertentu dengan hati binatang dan lemak-lemak hewan tertentu yang prosesnya tidak boleh disaksikan oleh orang lain. Sehingga ada perbedaan antara kain yang disebut besuoh (artinya kain masak, yaitu yang prosesnya dilakukan secara lengkap dan telah memenuhi prasyarat adapt atau tata ketentuan tertentu) dengan kain mata’ (kain yang tampa melewati persyaratan-persyaratan ada, misalnya tidak menggunakan hati atau lemak hewan tertentu, tanpa menggunakan kapur sirih, dan sebagainya).



Ekspresi

 

Dalam hubungannya dengan tulisan ini, maka ekspresi yang dimaksud adalah menyangkut berbagai aspek pengungkapan maupun pengakuan masyarakat Dayak Desa dan Dayak Ketungau terhadap berbagai fenomenologi jagad yang dipahaminya menurut batas kemampuannya sebagai manusia saat itu. Jadi, yang dimaksud dengan sebuah ekspresi tidak pernah hanya merupakan teks yang terisolasi dan statis, sebaliknya ekspresi mencakup aktivitas yang meniti waktu (processual). Sebuah bentuk kata kerja, sebuah tindakan yang berakar pada situasi social yang melibatkan orang-orang nyata dalam kebudayaan dan era sejarah tertentu, seperti yang dikatakan oleh Edward M. Burner experience and its expression dalam The Anthropologi of Experience yang diedit bersama Viktor Turner dan Edward Bruner pada 1982, sebagaimana dikutip Sal Murgianto dalam tulisannya Mengkaji Kajian Pertunjukan (Pudentia MPSS, 1998).


            Kosmologi


            Perlu juga untuk dikemukakan di sini apakah yang dimaksud dengan kosmologi. Kosmologi, dalam bahasa Inggris adalah cosmology, berasal dari bahasa Yunani yang berarti kosmos (dunia, semesta alam) dan logos (ilmu tentang, alasan pokok bagi suatu pertimbangan). Beberapa pengertian kosmologi, yang pertama adalah ilmu tentang alam semesta sebagai suatu system rasional yang teratur. Yang kedua adalah sering digunakan untuk menunjuk cabang ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, yang berupaya membauat hipotesis mengenai asal struktur, cirri khas, dan perkembangan alam pikiran berdasarkan pengamatan dan metodologi ilmiah. Yang ketiga adalah ilmu memandang alam semesta sebagai suatu keseluruhan yang integralis dan bagian dari alam semesta berdasarkan pengamatan astronomi, merupakan suatu bagian dari keseluruhan tersebut, sedangkan yang keempat adalah, secara tradisional, dianggap sebagai cabang metafisika yang bergumul dengan pertanyaan mengenai asal dan susunan alam raya, penciptaan, dan kekekalan, vitalisme, kodrat hukum, dan kausalitas. Analisis kosmologi mencoba mencari apa yang berlaku bagi dunia ini (Lorens Bagus, 1996).

            Dari sini tampaklah ide-ide kosmologi pertama kali yang naďf tampak di zaman bahuela dulu sebagai suatu hasil kegiatan makluk yang disebut homo sapiens untuk menemukan tempatnya dalam jagad (semesta) ini. Manusia Dayak yang pada saat itu secara tradisional telah mencoba merumuskan ide-idenya tentang fenomena dan gejala-gejala alam, tentang suatu energi kehidupan ke dalam suatu bentuk pemahaman (tertentu) yang terakumulasi ke dalam berbagai aktivitas kebudayaan manusia Dayak.


            Manusia Dayak, alam Semesta, Mitologi dan Simbol.

 

            Dalam mengalami berbagai gesekan (pengalaman) dengan alam, manusia akan dituntun kepada suatu penemuan serta pemahaman baik secara individu maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat yang melalui proses tertentutelah terkonsentrsi menjadi sesuatu yang kelak akan melahirkan format pemahaman bagaimana harus menjalani hidup dan kehidupan di alam lingungannya. Di sanalah mitos dan symbol dihadirkan, bukan lagi dipahami sebagai suatu fenomena yang masih mentah, tetapi telah menjadi suatu jawaban dari keinginan untuk menemukan jawaban dari berbagai gejala ala mini. Jadi, seperti di ungkapkan J Van Beal (1987) sebagaimana dikutip Dr. Hans J. Daeng, mitos adalah sebagai cerita di alam kerangka system suatu religi masa lalu dan kini telah atau sedang berlalu sebagai kebenaran keagamaan. Sedangkan mitologi adalah suatu cara mengungkapkan, menghadirkan Yang Kudus, Yang Ilahi melalui konsep serta bahasa simbolik. Mitologi jugalah yang memungkinkan manusia memberi tempat bermacam-macam, pengalaman yang diperolehnya selama hidup (Dr. Hans J. Daeng 2000).

            Sebagaimana layaknya makluk yang disebut maupun yang menyebut dirinya manusia sementara ini, manusia Dayak juga memiliki Integritas kemanusiaan yaitu semacam lingkaran fungsional atau mungkin juga semacam kemampuan naluriah untuk bersatu dan selaras dengan lingkungannya. Di mana manusia Dayak yang kebetulan secara histories geografis pernah, bahkan masih hidup di pedalaman (sekarang sisa) hutan Kalimantan yang telah melewati entah berapa ribu kali fase evo (atau bahkan) revolusi, tentunya telah melakukan adaptasi-adaptasi ekologis tertentu yang membentuk suatu kristalisasi format nilai kosmologi tertentu pula. Inilah yang kemudian sangat mempengaruhi kerangka system berpikir maupun bertingkah laku manusia Dayak pada akhirnya. Biasanya, kita dapat melihat visualisasinya dalam tradisi lisan, baik yang berupa cerita mitos, dalam upacara-upacara ritual, pantangan, atau “Kearifan-kearifan” hidup lainnya yang terkadang secara logika sangat sulit diterangkan. Oleh sebab itu, manusia Dayak dalam menghadapi berbagai fenomena alam memiliki kecenderungan untuk mengembangkan cara berpikir yang sangat kompleks dalam citra semesta (bandingkan dengan YB. Mangunwijaya, 1999) atau semacam pencampuran yang merupakan senyawa padat pekat antara logika, mitologi dan naluri, extranes wissen (pengetahuan luar kesadaran). Jadi, akan sangat sulit untuk menarik suatu batasan yang jelas, mana yang logika, mitologi, atau naluri. Biasanya, dengan mudah saja sementara orang akan menyebutnya tahayul. Lihat saja keseharian mereka yang melompat dari upacara ke upacara tertentu, hidup, legenda, mitos, yang telah menjadi suatu system budaya. Termasuk tenun ikat yang dalam proses penciptaan maupun kegunaannya bertumpu kepada hukum keseimbangan jagad (alam) dan usaha-usaha kea rah pemeliharaannya. Misalnya, melalui metanonia (pertobatan dan bersih diri) yang bisa berwujud sesajian, upacara-upacara (adapt) tertentu, atau melalui sikap hidup.


Tenun Ikat Dayak dan Kebudayaan


            Sebelum kita melihat bagimanakah hubungan Tenun Ikat Dayak dan kebudayaan lebih lanjut, ada baiknya kita mengetahui apa itu kebudayaan. Menurut Rut Benediet, kebudayaan merupakan pola-pola pemikiran serta tindakan tertenyu yang terungkap dalam aktivitas, sehingga pada hakikatnya kebudayaan itu sesuai dengan apa yang dikatakan Ashley Montagu, yaitu a way of life. Cara hidup tertentu, yang memancarkan identitas tertentu pula pada suatu bangsa. Dapat juga dikemukakan, kebudayaan adalah keseluruhan proses dan hasil perkembangan manusia yang disalurkan dari generasi ke generasi untuk kehidupanmanusiawi yang lebih baik (Soerjanto Poespowordoyo, 1989: 218-219).

            Dilihat dari dimensi wujud menurut para ahli kebudayaan, terbentuk atas tiga wujud, yakni (1) wujud sebagai suatu kompleks gagasan atau ide, (2) wujud sebagai suatu kompleks aktivitas, dan yang ke (3) wujud benda. Yang pertama disebut system budaya, yang kedua disebut system social, sedangkan yang ketiga adalah kebudayaan fisik. Dari sanalah kita dapat melihat kebudayaan dapat juga dipahami sebagai dialektika masa lampau dan masa depan yang bersintesis dengan masa sekarang. Kalau ia dilihat sebagai kompleks ide maka kebudayaan itu merupakan system pengetahuan, atau system makna, system of meaning (Persudi Suparlan, 1980, seperti dikutip oleh Dr. Hans J. Daeng, 2000). Secara semiotic, kebudayaan merupakan reaksi competence yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat untuk mengenal lambing-lambang untuk menginterprektasi dan untuk menghasilkan sesuatu. Kebudayaan dalam batasan itu akan mengejawantah terutama sebagai performance, sebagai suatu keseluruhan dari kebisaan tingkah laku dan hasil-hasil darinya (Aart Van Zoest, 1992).

            Lalu, di mana posisi tenun ikat Dayak?

            Dari pendapat di atas maka tenun ikut Dayak dapatlah kita lihat sebagai salah satu wujud kebudayaan artifacts (sekumpulan benda) yang juga merupakan salah satu cara dan sekaligus media pengungkapan dari suatu himpunan gagasan atau ide yang merupakan dialektika masa lampau dan masa depan yang bersintensis dalam masa sekarang, seperti yang disebut di atas. Bukan hanya itu saja, sebagai homo sapiens (manusia bijak, berkebudayaan) dan homo religious (manusia religius) maka manusia Dayak juga dalam banyak hal mencoba menghubungkan hakikat tertinggi. Dengan lain, perkataan hakikat tertinggi memanfifestasikan diri kea lam manusia dan itulah hierofani, teofani, atau apa yang oleh Eliade disebut sebagai “mental alam”. Untuk berkomunikasi dengan hakikat tertinggi yang diyakini sungguh ada dan penuh kekuatan serta menjadi sumber kehidupan dan energi: manusia (dayak) memakai ritus sebagai sarana. Dengan menggunakan ritus, manusia beralih dari keadaan profane ke situasi sacral. (Saliba, 1978, seperti dikutip Dr. Hans J. Daeng, 2000). Di sinilah tenun ikat Dayak ini lahir sebagai suatu bagian dari the idea of  the holy (gagasan tentang yang kudus). Di mana secara fenomenologi religi, pada masyarakat tradisional, seluruh kosmos terbuka untuk yang kudus.


Tenun Ikat Dayak dan Tradisi Lisan

 

            Apabila seorang pemburu ingin berburu bai hutan, maka tentu ia tidak langsung menemui babi tersebut untuk menanyakan berapa banyak kawanan yang berkumpul di sekitar hutan? Berapa besar kira-kira masing-masing babi yang ada? Lalu, dari mana kira-kira mereka besok pada jam sekian akan lewat? Apa yang dilakukan oleh pemburu tersebut? Dengan melihat bekas jejak saja ia sudah dapat memperkirakan jumlah babi, besar, dan dari mana babi besok akan lewat. Demikianlah halnya dengan kita!

            Untuk mengetahui dan menyelidiki tenun ikat Dayak tersebut, kita juga harus meneliti tradisi-tradisi lisan Dayak. Sebab dalam suatu kebudayaan teks terutama diproduksi secara oral lalu kemudian diteruskan secara turun-temurun dari mulut ke telinga. Dan menurut Ben Engelhart dan Jan Willem Klein turunan kata merupakan lambing pengalaman rohaniah, yang tertulis merupakan lambing tuturan (M. Susuf, Kompas, 2 Juni 2000). Tradisi lisan maupun cerita-cerita rakyat di sini telah berjalan berdampingan berabd-abad lamanya, saling bersisian seperti dua buah cermin atau rantai penghubung yang saling menjelaskan satu sama lain. Bahkan beberapa teks tradisi lisan (Dayak Ketungau dan Dayak Desa) yang sama-sama masuk dalam rumpun ibanil merupakan “rekaman biografi” atau bentuk lain dari kehidupan sang/kain tenun ikat itu sendiri. Apabila di sini kain tenun merupakan salah satu bentuk lain dari lambing tuturan, maka di dalam tradisi lisan inilah kita akan mengetahui cerita-cerita tertentu mengenai tenun ikat yang telah menjadi satu dengan segala aspek kehidupan manusia Dayak, khususnya masyarakat Dayak Desa dan Ketungau (lebih luas lagi Dayak Iban, Dayak Kantu’ dan beberapa sub suku Dayak lainnya. Seperti di sekitar Kabupaten Singgau, misalnya Dayak Jangkang dan Mualang).

            Ada pun yang dimaksud tradisi lisan di sini ialah berbagai pengetahuandan adapt kebiasaan yang secara turun temurun disampaikan secara lisan dan mencakup hal-hal seperti yang di kemukakan oleh Roger Told an Pudentia: oral traditions do not only contain folktales, myths and legends (…), but store complete indigeneous cognate systems. To name a few: histories, legal practices, adapt low,meditation, seperti yang dikutip oleh B.H. Hoed dalam tulisannya yang berjudul Komunikasi Lisan sebagai dasar Tradisi Lisan (Metodologi Kajian Tradisi Lisan, Editor Pudentia MPSS, 1998).

            Berdasarkan penelitian penulis, maka ada beberapa tradisi lisan yang erat kaitannya dengan tenun ikat adalah:


1.  Kana

            Kana adalah suatu bagian dari tradisi lisan Dayak Desa maupun Dayak Ketungau yang berbentu cerita lirik, semacam syair panjang yang dituturkan oleh orang-orang tertentu, yang telah memiliki syarat-syarat tertentu (misalnya usia, keturunan, dan tentu juga keahlian). Menurut Pak Bangu, seorang ahli kana yang berusia sekitar 58 tahun, di Desa Terumbu’ Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang, untuk Kana Bilang Temawai (Menghitung Tembawang), walaupun seseorang cukup pandai menuturkannya tetapi apabila ia belum pernah duda/janda karena salah satu pasangannya meninggal, maka ia belum boleh kana tersebut. Jika sedang menuturkan kana, penutur tidak boleh menghentikan ceritanya seenak perutnya karena cerita ini dianggap sacral. Tokoh-tokoh dalam cerita kana dipercayai bakal tersinggung dan marah jika dihentikan di sembarang cerita. Penutur harus memilih bagian yang tepat apabila terpaksa harus menghentikan ceritanya. Misalnya, jika kana tersebut tengah menceritakan babak peperangan maka cerita itu tak boleh dihentikan sebelum para tokoh cerita mencapai kemenangan dan seterusnya.

            Lalu apa hubungan kana ini dengan tenun ikat Dayak? Menurut pengalaman penulis selama penelitian, berkana ini sangat kaitannya denga proses penciptaan tenun ikat Dayak. Apabila kita meneliti lirik-lirik syair sebuah cerita kana, di sana kita akan menemukan suatu peristiwa khusus, mengapa, dan bagaimana sebuah kain tenun ikat itu tercipta. Apa kegunaannya baik dalam hal bentuk (kain bidang, kumbu atau selampai) maupun motifnya (misalnya naga, sisik langit, dll). Maka motif yang terlarang dan mana motif yang boleh di contoh manusia. Terkadang sebuah cerita kana bahkan sering memberikan insipirai bagi para penenun dalam menyelesaikan tenunannya. Kana bisa membangkitkan daya imajinasi para penenun dan orang lain yang ikut mendengarkan cerita tersebut secara transfor matif. Ada kebiasaan bagi para penenun, setelah makan malam mereka berkumpul di suatu tempat terbuka atau balai-balai (kalau di rumah betang disebutruai) untuk menenun bersama-sama, sambil mendengarkan sebuah cerita kana yang dialinkan oleh sang ahli kana yang memang sengaja diundang untukitu. Biasanya, kegiatan ini berlangsung sampai larut malam. Dalam bahasa Dayak Desa dan Ketungau kegitan ini disebut bersedau.

            Jadi antara yang berkana, yang mendengarkan maupun yang dikanakan (tokoh-tokoh sebuah kana, yaitu Kelieng, Kumang, Dabuong. Landai, dan lain sebagainya) memiliki suatu hubungan kekerabatan yang mistis kosmis sebab menurut legenda yang dipercayai masyarakat Dayak Desa dan Ketungau secara turun temurun, nenek moyang manusia Dayak pernah hidup bersama-sama satu tuturan atap dengan tokoh-tokoh ini. Yaitu di Tembawang yang disebut Temawai Tampun Juah (bahkan beberapa sub suku yang ada di daerah Sanggau seperti Dayak Mualang dan Jangkang pun mengakuinya juga). Letaknya di sekitar perbatasan antara Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sintang.


2.  Kanduok/Ensera

            Kanduok (Desa) atau Ensera (Katungau) adalah suatu cerita berstruktur yang setengah dilagukan, biasanya mengenai riwayat-riwayat para tokoh mitologi, seperti Kelieng, Kumang, dan lain-lain. Kanduok/ensera ini secra umum dapat bibagi menjadi 2 yaitu :

a.       Bersifat serius. Seperti halnya  kana di atas kanduok/ensera ini apabila yang bersifat khusus, misalnya tentang kehidupan tokoh seperti Kelieng, Kumang dan lain-lain, kana yang dituturkan menjadi kanduok, juga tetap harus memenuhi prasyarat tertenyu seperti pada kana, tetapi kanduok atau ensera ini umumnya lebih pendek.

b.      Bersifat ringan. Kanduok/ Ensera ini mungkin lebih dekat dengan istilah dongeng dan tidak memiliki persyaratan khusus seperti pada kana. Kanduok/ensera yang ringan dan pendek, biasanya cerita-ceritanya bersifat bebas, sering dijadikan pengantar tidur bagi anak-anak seperti fable, dan sebagainya. Untuk sebuah kanduok atau ensera biasanya cukup dituturkan satu orang saja. Kanduok dituturkanterutama pada saat para wanita Dayak sedang mencabut/membersihkan rumput atau saat bergotong-royong memanen padi di lading. Oleh sebab itu, penutur kanduok atau ensera ini lebih cenderung seorang ibu/wanita. Tetapi boleh juga dilakukan oleh seorang priya. Namun yang memiliki kaitan erat dengan tenun ikat ialah kanduok/ensera bentuknya agak serius, tokoh-tokohnya pun adalah orang-orang pandai, orang-orang sakit yang dianggap pernah benar-benar hidup zaman dahulu. Antara lain yang dituturkan oleh Bu Riri, 72 tahun, di Desa Baning Pandak, Desa Baning Panjang Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang. Riri lewat kanduoknya menceritakan tentang rumah Inael Kelieng yang diserang musuh dan akhirnya mereka berhasil meloloskan diri atas bantuan selampai, kepua kumbu’ (jenis-jenis kain tenun ikat) yang membawa mereka sekeluarga terbang jauh. Atau ensera tentang bungkal yang dituturkan oleh Bu Sinjang dari Dusun Enceruan Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Di mana diceritakan, Inaei abang dan Undi menyambut kepada hasil pengayauan rombongan Laja dengan menggunakan kepua’ kumbu’ (kain tenun ikat seukuran selimut).


3.  Enselan  

            Enselan adalah bagian dari sebuah kegiatan upacara adapt yang biasa dilakukandalam masyarakat Dayak. Semacam mantra yang telah baku untuk memohon berkat kepada Sang Pemilik Kekuasaan mutlak. Misalnya saja pada upacara Enselan Rindu’ (enselan anak perempuan), yang antara lain memohon kepada beberapa orang sakti maupun nenek moyang yang pernah hidup sebagai seorang yang bijaksana, sakti, pandai menenun, dan lain sebagainya (seperti Kemenai, Bidu Petara) untuk memberkati kehidupan sang anak supaya kelak ia menginkuti jajak kebijaksanaan dan kepandaian mereka, termasuk dalam hal menenun, seperti yang dituturkan oleh Lutan, seorang ibu yang sudah  berusia 68 tahun, berasal dari Tembawang Suran yang sekarang telah menjadi bagian dari Desa Tanjungsari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang.

            Ada juga upacara enselan anak lelaki yang prosesnya hamper sama. Saat enselan, sang anak didudukkan di atas gong dengan dipangku seseorang yang pantas menurut adapt dengan beralaskan kepua ‘kumbu’ tersebut. Anak tersebut kemudian diolesi dengan darah ayam yang dicampur dengan darah babi, sebagai tanda ia telah diberkati. Demikian juga halnya dengan enselan uma (enselan lading), kepua’ selalu disertakan dalam upacara ini supaya kegiatan berladang itu kepada Sang Penguasa Alam dan terhindar dari ganguan hama maupun bencana lainnya.


4.  Ngerenung

            Ngerenung adalah bagian dari upacara adapt dalam masyarakat Dayak Ketungau (Dayak Desa juga mengenal ini tetapi sudah tak pernah dilakukan lagi karena sudah sangat sulit untuk menemukan ahlinya). Ada beberapa buah renung yang dikenal dalam masyarakat Dayak Ketungau. Ada yang disebut renung enselan uma (dilakukan diladang dan merupakan kelanjutan dari enselan uma/lading), ada yang disebut renung turun ngema’ (renung ini hanya dilakukan saat upacara memandikan anak kecil di sungai), renung ngapek pentiek (dilakukan saat menanam pentiek/semacam patung dari kayu). Dan akan kita jadikan contoh di sini adalah renung tusuk (silsilah asal mula terciptanya manusia sampai keturunan atau sang anak yang sedang dipestakan). Renung ini biasanya dilakukan saat upacara pemasahan gigi sang anak atau upacara saat menggunting rambut atau menitik (melubangi) daun telinga anak baik laki-laki atau perempuan. Renung ini sebenarnya kelanjutan dari enselan.

            Setelah seorang anak dienselan maka kemudian dilanjutkan dengan renung ini. Tujuannya untuk menggemakan suara pesta/upacara tersebut dengan mengundang tokoh mitologi maupun nenek moyang yang pernah hidup mempuni (misalnya pemandai-pemandai tual/tokoh-tokoh tua yang terkenal paling pandai menenun seperti yang dituturkan oleh seorang ibu bernama Baca, 68 tahun, di Nanga Merankai Kecamatan  Ketungau Tengah Kabupaten Sintang, yaitu tentang emandai jawai yang menenun di atas tunggul sambil melihat ke dasar sungai di mana nabau/naga yang dijadikan motif tenunnya berada di dasar sungai tersebut). Atau sekedar mengirimkan tuah dan berkatnya yang berupa obat atau pun ajimat yang akan menjadi bekal membantu sang anak dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Supaya kelah ia menjadi orang yang bijak, pandai menganyam-menenun dan memperoleh suami yang baik ( kalau perempuan) dan seterusnya.

            Pada saat itu, suasana di rumah betang penuh oleh dekor-dekor kepua ‘kumbu’ dan kain tenun ikat lainnya. Semua yang terlibat langsung dalam gawai tersebut (yang bertugas, biasanya dari kalangan tertentu yang memang memiliki keahlian tertentu) biasanya mengenakan pakaian adapt yang bahan dasarnya juga dari kain tenun ikat tersebut. Misalnya, yang wanita mengenakan kain tatieng (kain yang dibelitkan menyerupai rok memanjang ke bawah lutut) dan baju dengan berbagai pernik. Lelaki menggunakan sirat/cawat, selampai/selendang, baju maram (potongannya mirip rompi), dengan tutup kepala yang penuh bulu-burung beserta asesorisnya yang kesemuanya itu dipenuhi ukiran dan motip yang belum indah, beraneka jenis dan bentuk, yang sekaligus menghadirkan suasana sacral dalam upacara tersebut.

            Hubungan antara tenun ikat Dayak dengan manusia Dayak itu sendiri bukanlah sekadar suatu hubungan material normative praktis (nilai kebendaan) belaka, antara yang membuat dengan yang dibuat, tetapi adalah sesuatu yang sangat kompleks. Maka dalam memahami ini, kita tak boleh lepas dari konsep pemikiran di atas tadi. Kita harus mampu melihatnya sebagai suatu keseluryhan system yang hidup, sebagai suatu rantai kosmos yang saling berkaitan dan saling tergantung serta ada hubungan timbale balik antara bagian dan keseluruhan.

            Jadi manusia Dayak memang sudah sejak dari awal mulanya telah memiliki suatu hubungan yang suci, yang keramat, yang sungguh sayang sekarang malah semakin dan kian memudar. Pada saat itu kain tenun menempati suatu strata yang cukup “kudus” dan tanpa disadari telah menjadi semacam lembaga yang sacral, terutama dalam hubungannya dengan ritus-ritus kehidupan yang sekarang pun tinggal legenda. Pada akhirnya dapatlah kita simpulkan bahwa tenun ikat Dayak telah menjelma dari dan menjadi suatu ekspresi manusia Dayak yang pernah hidup di zamannya. Dan yang sekarang hanya tinggal segelintir saja. Apabila generasi ini telah berlalu, maka sudah dapat dipastikan bahwa tidak akan ada lagi para penutur bijak, seperti generasi di rumah betang tempo dulu. Maka tinggallah nostalgia getir yang teramat kelat (antara rasa pahit, manis, bercampur dengan obat sariawan Cheng Sie Lung Hau Fung San) untuk dikenang. Di depan layer komputet, generasi manusia Dayak mencoba mencari dirinya sendiri, mencari penggalan-penggalan kisah masa lalu, tentang sawatnya, tentang tato (celingai) di tumbuhnya, tentang dirinya sendiri yang perlahan-lahan tengah bergerak, ngigal penari, menghilang, mengelepar-gelepar di antara kabel-kabel, tombol-tombol dan layer televise.


Asriyadi Alexander Mering, sastrawan, wartawan di media Bornio Tribune Kalimantan Barat.

 

 

Daftar Pustaka


Dietz, Ton, 1998, Hak asasi Sumberdaya Alam, Yogyakarta : Kerjasama Pustaka Pelajar, INSIST Press dan REMDEC

 

Alamudi, Abdullah, 1990, Sebuah Seni Kontemporer, majalh Titian No. 4, Jakarta: USIS.


Pundentia MPSS (Editor), 1998, Metodologi Kajian Tradisi Lisan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.


Bagus, Lorens, 1996, Kamus Fisafat, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


M. Susuf, Era kelisanan Baru, artikel Kompas 2 Juni 2000


Seno Gumira Adjidarma, Indonesia sebagai Pasien Jung, Sejarah Tak Terkuburkan, artikel Kompas, Sabtu, 6 Mei 2000

 

Sudjiman, Panuti dan Van Zoesr, Aart, 1992, Serba Serbi Semiotika, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.