AGENDA KEGIATAN          iconrss
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
250001 Total visits
580 Visits Today
1 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Hiruk Pikuk Seni Rupa : Telikung Sejumlah Paradoks



Penulis :
Satmoko Budi Santoso

Edisi Mata Jendela:
4 / 2009 (OKTOBER - DESEMBER)

Isi Artikel:

Disebabkan oleh kebutuhan emenuhan tugas jurnalistik, setahun terakhir ini saya tersuruk takjub masuk hutan tanda seni rupa. Kesan  pertama saya yang segera menghardik adalah perbincangan seni rupa di Yogyakarta cenderung hanya berkelindan pada peresoalan pasar, perupa, estetika dan mengenai infrastruktur seni rupa.

Saya cukup jarang menjumpai adanya perbincangan di kalangan perupa yang gelisah mati-matian, misalnya kenapa karyanya tidak segera  menyusul karya patung Edhi Sunarso Yang bertajuk The Unknown Political Prisoner. Karya patung tersebut dibuat dari batu yang dipahat, pada era 1950 an sudah mejng mentereng secara permanen di museum Tate London.

Temuan fenomena semacam ini saya anggap secara paradoks perbincangan yang sering terjadi yang saya temui baik secara serta merta atau secara serius adalah karya perupa A langsung sold out pada pameran di galeri B, ia dapat sekian juta atau miliar, pada hal tidak begitu banyak menggunakan artisan, artisanya cuma dibayar ekian, dan sebagainya. Ketika awal memasukan hutan tanda perbincangan semacam itu pikiran saya adalah barangkali saja itu merupakan arah perbincangan wal sebelum masuk ke "perbincanangan yang lebih ideal": Bagaimana cara menstrategikan karya  sehinggga dapat memenuhi kualitas masuk museum bergengsi di kota-kota berperadapan apresiasi karya seni maju seperti di negara-negara Eropa.

Arah perbincangan yang saya harapkan semacam itu tak kinjung saya dapati. Bahkan ketika para perupa yang kini sudah tergolong menjadi miliarder pun dalam obrolan-obrolannya tak juga menggeser tema perbincangan menjadi "lebih idealis" ada hal untuk urusan periuk, mereka telah seselai. Dulu saya juga pernah berharap, semoga saja arah perbincangan yang tidak begitu idealis" itu hanya karena mereka dendam terhadap kemapanan-kemapanan eksistensi saja dan segera menyadari bahwa ada orientasi eksistensi lain yang mestinya dibangun lebih kondusif. Tetapi bagi saya yang kahirnya saya dapatkan memang hanya sekedar gigit jari.

Dalam perjalanan tugas jurnalistik yang saya lakukan, tentu saja saya berkali-kali memasuki area peliputan pameran. Diantranya, Highlight dari medium ke trans media, merupakan event pameran besar Institut Seni Indonesia mulai dari dosen sampai mahasiswa, bahkan alumni.  Jogja Art Fair #2 berorientasi pada paradikma pasar pragmatis, pemenuhan segmentasi, kebutuhan para kolektor kelas teri maupun tingkat atas. Anehnya saya justru  menangkap bahwa secara visual obsesi estetik yang ditonjolkan oelh sejumlah perupa yang terlibat kedua pameran tersebut adalah sama. Dalam kata lain tidak ada perbedaan yang mencolok.

Strategi visual yang ditempuh sejumlah perupa dalam kedua pameran tersebut sama yaitu hanya mengedepankan tuntutsn estetika yang cenderung mengarah mempertuhankan pasar.  Apakah sebenarnya yang terjadi?

Saya hanya ingin menyodorkan suatu idealisasi. Baik aspek kemapanan materi merupakan hal penting sebagai akar ketenangan berkarya. Namun semenjak era Boorning seni rupa sampai sekarang persoalan materi itu sudah selesai, yang muncul kegelisahan kelanjutan mengenai strategi visual yang kritis untuk dikoleksi museum cukup bergengsi dibelaha  dunia barat. Bukan begitu? Kenapa tidak ada yeng membicarakan tren seni rupa museum tertentu? misalnya Museum A di Belanda, dll.

Itulah tantangan menarik bersifat praktis: bagaimana mengkondisikan orientasi  obesesi estetik menjadi bernilai lebih.Apalagi seni rupa yang ada di Indonesia atau dalam lingkup Jogja.

Secara moral tentu saja tidak hanya dibebankan pada institusi seni rupa saja. Semua komponen seni rupa haruslah bahu membahu memahami hal tersebut dan memberikan ruang aktualisasi. Dalam hal ini watak pasar setidaknya bisa menggeser  sedikti ambisi peruntungannya denga manikkan gengsi intelektual agar terdefensi menjadi pasar yang mempunyai etika kepedulian  terhadap sejumlah kekurangan apa ang menjadi basis produk jualannya. Sinergi pembenahan antar komponen infrastruktur personal dan non personal  di dalam seni rupa tersebut niscaya bakalan menjadikan dunia seni rupa itu sendiri mempunyai posisi terhormat, karena benar-benar mengedepankan etika moral, baik dalam laku kuasa atas asar, prosedur kreatif, varian interaksi lainnya lagi. (majajendela, edisi 4/2009, pada hal 7  - 11)