AGENDA KEGIATAN          iconrss
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
250103 Total visits
55 Visits Today
1 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Laju Di Seni Rupa, Kendala di Tata Kelola



Penulis :
Kuss Indarto

Edisi Mata Jendela:
4 / 2009 (OKTOBER - DESEMBER)

Isi Artikel:


Andaikan Yogyakarta mengklaim diri sebagai "ibukota seni rupa Indonesia", publik  bisa menemukan banyak rujukannya. Salah satunya dari laporan Artprice, sebuah lembaga data dan riset mengenai pasar seni rupa dunia yang berkedudukakan di Paris, yang pada pertengahan tahun 2009 mengeluarkan sebuah laporan tahunan bertajuk Contemporary Art Market 2007/2008. Ada banyak data penting perihal aspek komodifikasi atas karya seni rupa dalam kurun akhir tahun 2007 hingga akhir 2008 disana.
Sebuah laporan dalam Contemporary Art Market 2007 / 2008 : Artprice Annual Report menyatakan bahwa ada 9 nama seniman seni rupa (perupa) kontemporer  Indonesia yang termasuk dalam 500 besar seniman yang karyanya terjual dengan harga tertinggi di bursa lelang di dunia. Sembilan perupa itu semuanya berproses dan tinggal di Yogyakarta, mereka adalah : Nyoman Masriadi (berada di urutan no 41), Agus Suwage (122), Rudi Mantovani (142), Putu Sutawaijaya (152), Yunizar (176), Handiwirman Saputra (250), Budi Kustarto (316), Jumaldi Alfi (384), dan M Irfan (481). Nama -  nama perupa tersebut selain Agus Suwage pernah mengenyam pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Dari data - data yang lain menyatakan bahwa sedikit banyak telah memberi indikasi yang tegas akan kuatnya geliat pertumbuhan pasar (lelang) seni rupa dunia, sekaligus seluruhnya dominasi pasar Eropa dan Amerika Serikat atas kawasan lain yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Dengan asumsi angka penjualan sebesar 641 juta euro pada negara - negara Amerika Serikat dan Eropa (yang masuk 5 besar) berbanding 293 juta euro pada negara - negara di Asia, dengan kentara mempertontonkan potensi yang besar bagi kekuatan Asia  terutama China untuk membalik posisi dengan mendominasi pasar seni rupa pada kurun waktu 5-10 tahun kedepan. Dan kecenderungan tersebut akan berimbas positif pada perkembangan seni rupa di Indonesia, terkhusus Yogyakarta yang keberadaan seniman di dalamnya mulai
banyak dilirik kalangan diluar Indonesia.
Sekilas data tentu tidak bisa dilihat dalam kerangka pandang yang sempit. Diingatkan dengan tegas bahwa menyebut data kuantitatif yang berasal dari balai lelang terkadang bisa diasumsikan memberi bias pemahaman oleh sebagian kalangan karena diduga mereduksi beberapa hal  yang substansial berkait dengan seni, yakni soal nilai - nilai. Angka - angka dalam bursa pasar juga tidak bisa dijadikan parameter tunggal dan dominan dalam menentukan kualitas sebuah karya seni rupa.
Di Yogyakarta ada sekolah dan perguruan tinggi seni (rupa) seperti Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang kini menjadi bagian dari sebuah SMK di Bantul, juga fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta. Dan Yogyakarta itu sendiri adalah "kampus" besar yang menghidupi dan menghela laju kreativitas banyak seniman yang tinggal di dalamnya. Ada banyk galeri yang bisa mengakomodasi sepenuhnya gairah kreatif para perupa dalam segala bentuk. Ada beragam komunitas yang saling jalin jadi satu sama lain untuk saling berinteraksi , berjejaring kerja, dan kemudian saling mengayakan satu dengan yang lain.
Hipotesis bisa saja bergeser atau keliru, namun realitas umum yang terjadi dalam ruang - ruang seni penting di Yogyakarta sedikit banyak mengindikasi ke arah itu. Atmosfir (asumsi) bisa saja bergeser tatkala publik menyaksikan sebuah perhelatan  di ruang - ruang seni yang lain, yakni galeri - galeri yang kini bertumbuh di yogyakarta. Namun nuansa da geliat kreativitas dan eksperimentasipun juga masih bertumbuh cukup subur disana.
Disamping berbicara sedikit hal yang berbau kualitatif, kembali saya ajukan secuil data yang mengindikasi  aspek kuantitatif. ini adalah sederet data yang saya olah dari berbagai sumber, termasuk yang dicatat oleh Yasan Seni Cemeti (sekarang Indonesia Art Arcieve, IVAA) sepanjang tahun 2005 atau lebih dari 4 tahun lalu. Disekujur kota Yogyakarta telah tergelar 223 perhelatan seni rupa yang bertebaran di 60-an venues atau ruang seni. Mulai darai acara besar yang dikerumuni ribuan pengunjung hingga perhelatan mungil di rumah kontrakan yang disambangi segelintir apresian.
Capaian ini tak lepas dari masyarakat penyangganya yang punya militansi kuat  pada dunia seni rupa dengan jumlahnya yang tidak banyak yang ditumbuhkan oleh sekolah dan kampus seni rupa, komunitas seni, dan lainnya. Kita bisa menggelar sedikit persoalan, misal keberadaan Festival Kesenian Yogyakarta yang sudah berlangsung lebih dari 20 tahun namun tanpa kebaruan kebijakan yang mampu mengakomodasi kepentingan perhelatan tersebut. Tentu ini teramat ironis dan patut disayangkan. Yogyakarta dengan segudang seniman yang telah berprestasi mendunia ternyata belum memiliki ruang mediasi, tidak memiliki dukungan legilasi, dan kebijakan pengelola kota memadai. Semuanya seperti berjalan sendiri - sendiri. Yang satu menorehkan pencapaian dan prestasi, yang lain tergenang dalam slogan yang kurang membumi.

 

Lihat MJ (Mata Jendela) Volume IV Nomor 4 / 2009 halaman 32-36