Macan Mati Meninggalkan Belang
Gajah Mati Meninggalkan Gading
Rendra Berpulang Wariskan Hati Lapang
Burung Merak Wafat Tebar Budaya Tanding
Rendra orang besar. Beliau empu susastra Indonesia yang pemberani melawan tirani.
Inovator teater Indonesia dan pelopor teater yang berdaya bagi masyarakat maupun
perubahan budaya. Dia spririt berparadigma baru dan pembaharu paradigma. Ia guru
besar bagi insan Indonesia yang humanis-religius (manunggaling kawula lan Gusti).
Tetapi Rendra juga manusia biasa yang lemah dan berkhilaf. Tetapi, Sang
Panembahan Reso itu telah mencapai makrifat melalui perjalanan setapak demi
setapak hingga puncak hidupnya.
Rendra wafat dan menemukan jalan kemakrifatan. Banyak kebajikan dan kemuliannya
yang tersembunyi kini terkuak melalui sahabat, maupun praktik budaya yang
menyertai kehidupan dan karya - karya hebatnya. Setidaknya dari Emha Ainun
Nadjib, pada bulan Rendra di FIB UGN Yogya (14 November 2009), dideskripsikan
pencapaian kesufian Rendra dengan tahapan hidup estetis dan semakin religius.
Semua dilakoni Rendra dengan kesadaran hidup yang rasional, sekaligus sabar.
Pancaran diri Rendra mempraktikan kehidupan yang berbudaya dengan berani berkata
jujur, beramar-makruf-nahi-munkar, dan siap menanggung resiko pemikiran dan karya
budayanya. Rendra sebagai manusia biasa tak lepas dari salah atau kekurangan,
namun beliau akhirnya menjadi insan khusnul khatimah.
Rendra sebelum menetapkan diri sebagai penyair (profesional), seperti penuturan
Cak Nun, pernah melakukan semedi minta petunjuk Sang Maha Indah. Rendra tidak
mendapat wahtu apapun dan jawaban dari-Nya. Namun ketka turun gunung bertemu
pembuat arang kayu. Rendra menanyakan, "Kalau duberi modal dan diberdayakan, maka
sampean yang membuat arang ingin jadi apa?" Rendra sangat terkejut sebab jawaban
tukang arang singkat : "Membuat arang yang berkualitas baik". Sejak itu, Rendra
memperoleh pencerahan diri, bertekad nenbuat puisi - puisi bermutu. Sang burung
merak pun menciptakan puisi dengan kualitas estetik terjaga dengan kaidah sastra
yang "dulce et utile" indah dan berguna. Indah secara susastra dan berguna untuk
membela, memperjuangkan nilai mulia berkebudayaan dan menyuarakan gugatan
terhadap ketidakadilan dengan karya seninya (puisi dan teater) maupun pemikiran
kirtisnya.
Rendra mencapai level diri manungsa kang sampurna atau makrifat, yakni tingkat
penyerahan diri kepada Tuhan, setelah naik jenjang demi jenjang sehingga akhirnya
sampai pada tingkat keyakinan yang kuat. Tahap pertama, pada tahap pemikiran
Rendra juga berguru dan belajar pada kearifan lokal, seperti : Hamengkubuwana
VIII yang berani menolak memindahkan Pasar Beringharjo disebelah utara Benteng
Vredeburg yang diminta penjajah Belanda untuk perluasan tangsinya. Rendra juga
memaparkan penghayatan filosofi Mataram Jawa Hamengkubuwana I yang merancang
istana (kraton) Ngayogyakarta Hadiningrat dengan landasan simbolik sangkan
paraning dumadi (dari mana dan akan kemana isi alam ini). Rendra belajar makrifat
ala jawa, dan memahami berbagai praktik budaya yang diwujudkan dalam karya
sastra.
Kedua, belajar kepada guru (formal, akademik) disekolah dan dibangku kuliah
sehingga dapat berpikir metodis, paradigmatik an rasional di Jurusan sastra Barat
pada fakultas sastra , pedagogik, dan filsafat, Universitas Gajah Mada Yogyakarta
(1954). Dari institut embrio FIB UGM itulah Rendra kemudian dapat belajar sastra
di Harvard University dua athun, dan Academy of Dramatical Arts selama tiga
tahun.
Sang burung merak telah mewariskan nilai - nilai budaya tanding yang tak
ternilai. Beliaulah peletak dasar perunahan dalam berbagai solusi perubahan
budaya melalui pemikiran yang kritis tentang akar budaya tradisi dan tantangan
modernitas, keunggulan dan busuknya kearifan lokal.
Ketiga, belajar pada sesama (teman, sahabat, lingkungan) sehingga memperoleh
kebajikan baru dan kebijakan memperjuangkan harkat - martabat sesama. Keempat,
belajar pada cerdik cendikia (alim sholeh) sehingga membentuk diri pribadi kuat
yang makrifat. Ia selalu beristighfar dan melahirkan sajak religius, Rendra
menapaki tangga kemakrifatan hingga puncak tertinggi yakni keikhlasan dalam
hidupnya.
Kelima, belajar pada fenomena perubahan ke(budaya)an, sehingga beliau mampu
menyampaikan pemikiran baru dengan cara lama, dan mengejawantahkan konsep atau
pemikiran lama untuk memberikan solusi pada persoalan mutakhir. Ia sosok diri
yang berpikir secara holistik, lintas jaman, dan "prespektif yang berbeda",
sehingga produk analisis dan simpulannya kadang mengejutkan orang lain, maupun
penguasa. Rendra bisa memahami budaya agraris sekaligus budaya maritim, dan
membela kaum lemah dengan lantang, serta melawan penguasa yang korup dengan gagah
berani.
Rendra tidak asik dengan inovasi diri dan kebaruan estetika teaternya, melainkan
tetap berakar pada atmosfer kehidupan masyarakatnya. Ia dengan sudut pandang
berbeda menyikapi realitas, dan domain kebudayaan menjadi bahan counter culture.
Hidup bagi Rendra adalah menemukan keseimbangan lahir batin, jasmani rohani,
sakral profan, baik buruk, siang malam, dan seni kehidupan(nonseni) berada dalam
diri manusia, saling bergolak bergelora.
Rendra pantas dijadikan sumber ilmu, meski sudah wafat, banyak karya seni dan
pemikirannya yang masih sesuai dengan kondisi kini. Putu Wijaya, guru, sahabat,
dan murid Rendra, merasakan diwarisi tradisi berinovasi dalam berteater sastra.
Rendra adalah mahaguru sejati, karena memberikan hak kepada muridnya agar unggul
dan lebih pandai dari pada gurunya.
Bila teater dianalogkan dengan jalan kehidupan, maka Rendra telah menjalani
sandiwara kehidupan dengan akhir cerita yang khusnul khatimah, semua ada kurang
dan lebih. Rendra juga manusia, ada salah ada khilaf. Tetapi jasa dan
perjuangannya menghidupkan teater modern Indonesia sehingga terbebas dari
stagnasi dan duplikasi yang jalan ditempat saja.
Rendra adalah muara kreatifitas susastra drama dan teater modern Indonesia.
Rendra memang pantas menyandang gelar pelopor dan inovator teater Indoneisa.
Tidak hanya inovator dalam teori dan estetikanya saja, melainkan juga dalam cara
mengelola teater dengan langgam padepokan, da memotivasi hidup dengan kerja
keras. Itulah pelajaran penting dari Rendra untuk menghidupi dan hidup dari
teater.
Lihat MJ (Mata Jendela) Volume IV, Nomor 4 / 2009