Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
238027 Total visits
197 Visits Today
3 Currently Online
ARTIKEL MATA JENDELA
Rendra Pelopor Inovator Teater Modern Indonesia



Penulis :
Lephen Purwaraharja

Edisi Mata Jendela:
4 / 2009 (OKTOBER - DESEMBER)

Isi Artikel:


Macan Mati Meninggalkan Belang
Gajah Mati Meninggalkan Gading
Rendra Berpulang Wariskan Hati Lapang
Burung Merak Wafat Tebar Budaya Tanding


Rendra orang besar. Beliau empu susastra Indonesia yang pemberani melawan tirani.

Inovator teater Indonesia dan pelopor teater yang berdaya bagi masyarakat maupun

perubahan budaya. Dia spririt berparadigma baru dan pembaharu paradigma. Ia guru

besar bagi insan Indonesia yang humanis-religius (manunggaling kawula lan Gusti).

Tetapi Rendra juga manusia biasa yang lemah dan berkhilaf. Tetapi, Sang

Panembahan Reso itu telah mencapai makrifat melalui perjalanan setapak demi

setapak hingga puncak hidupnya.

Rendra wafat dan menemukan jalan kemakrifatan. Banyak kebajikan dan kemuliannya

yang tersembunyi kini terkuak melalui sahabat, maupun praktik budaya yang

menyertai kehidupan dan karya - karya hebatnya. Setidaknya dari Emha Ainun

Nadjib, pada bulan Rendra di FIB UGN Yogya (14 November 2009), dideskripsikan

pencapaian kesufian Rendra dengan tahapan hidup estetis dan semakin religius.

Semua dilakoni Rendra dengan kesadaran hidup yang rasional, sekaligus sabar.

Pancaran diri Rendra mempraktikan kehidupan yang berbudaya dengan berani berkata

jujur, beramar-makruf-nahi-munkar, dan siap menanggung resiko pemikiran dan karya

budayanya. Rendra sebagai manusia biasa tak lepas dari salah atau kekurangan,

namun beliau akhirnya menjadi insan khusnul khatimah.
Rendra sebelum menetapkan diri sebagai penyair (profesional), seperti penuturan

Cak Nun, pernah melakukan semedi minta petunjuk Sang Maha Indah. Rendra tidak

mendapat wahtu apapun dan jawaban dari-Nya. Namun ketka turun gunung bertemu

pembuat arang kayu. Rendra menanyakan, "Kalau duberi modal dan diberdayakan, maka

sampean yang membuat arang ingin jadi apa?" Rendra sangat terkejut sebab jawaban

tukang arang singkat : "Membuat arang yang berkualitas baik". Sejak itu, Rendra

memperoleh pencerahan diri, bertekad nenbuat puisi - puisi bermutu. Sang burung

merak pun menciptakan puisi dengan kualitas estetik terjaga dengan kaidah sastra

yang "dulce et utile" indah dan berguna. Indah secara susastra dan berguna untuk

membela, memperjuangkan nilai mulia berkebudayaan dan menyuarakan gugatan

terhadap ketidakadilan dengan karya seninya (puisi dan teater) maupun pemikiran

kirtisnya.
Rendra mencapai level diri manungsa kang sampurna atau makrifat, yakni tingkat

penyerahan diri kepada Tuhan, setelah naik jenjang demi jenjang sehingga akhirnya

sampai pada tingkat keyakinan yang kuat. Tahap pertama, pada tahap pemikiran

Rendra juga berguru dan belajar pada kearifan lokal, seperti : Hamengkubuwana

VIII yang berani menolak memindahkan Pasar Beringharjo disebelah utara Benteng

Vredeburg yang diminta penjajah Belanda untuk perluasan tangsinya. Rendra juga

memaparkan penghayatan filosofi Mataram Jawa Hamengkubuwana I yang merancang

istana (kraton) Ngayogyakarta Hadiningrat dengan landasan simbolik sangkan

paraning dumadi (dari mana dan akan kemana isi alam ini). Rendra belajar makrifat

ala jawa, dan memahami berbagai praktik budaya yang diwujudkan dalam karya

sastra.
Kedua, belajar kepada guru (formal, akademik) disekolah dan dibangku kuliah

sehingga dapat berpikir metodis, paradigmatik an rasional di Jurusan sastra Barat

pada fakultas sastra , pedagogik, dan filsafat, Universitas Gajah Mada Yogyakarta

(1954). Dari institut embrio FIB UGM itulah Rendra kemudian dapat belajar sastra

di Harvard University dua athun, dan Academy of Dramatical Arts selama tiga

tahun.
Sang burung merak telah mewariskan nilai - nilai budaya tanding yang tak

ternilai. Beliaulah peletak dasar perunahan dalam berbagai solusi perubahan

budaya melalui pemikiran yang kritis tentang akar budaya tradisi dan tantangan

modernitas, keunggulan dan busuknya kearifan lokal.
Ketiga, belajar pada sesama (teman, sahabat, lingkungan) sehingga memperoleh

kebajikan baru dan kebijakan  memperjuangkan harkat - martabat sesama. Keempat,

belajar pada cerdik cendikia (alim sholeh) sehingga membentuk diri pribadi kuat

yang makrifat. Ia selalu beristighfar dan melahirkan sajak religius, Rendra

menapaki tangga kemakrifatan hingga puncak tertinggi yakni keikhlasan dalam

hidupnya.
Kelima, belajar pada fenomena perubahan ke(budaya)an, sehingga beliau mampu

menyampaikan pemikiran baru dengan cara lama, dan mengejawantahkan konsep atau

pemikiran lama untuk memberikan solusi pada persoalan mutakhir. Ia sosok diri

yang berpikir secara holistik, lintas jaman, dan "prespektif yang berbeda",

sehingga produk analisis dan simpulannya kadang mengejutkan orang lain, maupun

penguasa. Rendra bisa memahami budaya agraris sekaligus budaya maritim, dan

membela kaum lemah dengan lantang, serta melawan penguasa yang korup dengan gagah

berani.
Rendra tidak asik dengan inovasi diri dan kebaruan estetika  teaternya, melainkan

tetap berakar pada atmosfer kehidupan masyarakatnya. Ia dengan sudut pandang

berbeda menyikapi realitas, dan domain kebudayaan menjadi bahan counter culture.

Hidup bagi Rendra adalah menemukan keseimbangan lahir batin, jasmani rohani,

sakral profan, baik buruk, siang malam, dan seni kehidupan(nonseni) berada dalam

diri manusia, saling bergolak bergelora.
Rendra pantas dijadikan sumber ilmu, meski sudah wafat, banyak karya seni dan

pemikirannya yang masih sesuai dengan kondisi kini.  Putu Wijaya, guru, sahabat,

dan murid Rendra, merasakan diwarisi tradisi berinovasi dalam berteater sastra.

Rendra adalah mahaguru sejati, karena memberikan hak kepada muridnya agar unggul

dan lebih pandai dari pada gurunya.
Bila teater dianalogkan dengan jalan kehidupan, maka Rendra telah menjalani

sandiwara kehidupan dengan akhir cerita yang khusnul khatimah, semua ada kurang

dan lebih. Rendra juga manusia, ada salah ada khilaf. Tetapi jasa dan

perjuangannya menghidupkan teater modern Indonesia sehingga terbebas dari

stagnasi dan duplikasi yang jalan ditempat saja.
Rendra adalah muara kreatifitas susastra drama dan teater modern Indonesia.

Rendra memang pantas menyandang gelar pelopor dan inovator teater Indoneisa.

Tidak hanya inovator dalam teori dan estetikanya saja, melainkan juga dalam cara

mengelola teater dengan langgam padepokan, da memotivasi hidup dengan kerja

keras. Itulah pelajaran penting dari Rendra untuk menghidupi dan hidup dari

teater.

 

Lihat MJ (Mata Jendela) Volume IV, Nomor 4 / 2009