SENI DAN POLiTIK
Ah, Politik! Ah, Seni!
Di kurun itu, percik-percik peristiwa kebudayaan telah menabalkan dengantegas terbelahnya dua aliran utama di kalangan seniman kala itu. Ada aliran universalisme atau humanisme universal yang digawangi oleh seniman kubu gelanggang, serta dilain ihak ada aliran realisme kreatif atau realisme sosialis yang didukung oleh seniman Lekra. Keduanya beserta baku serang yang telah dilakukan mereka dalam pertarungan ideologi(s) itu, (seolah) telah menjadi legenda kebudayaan yang layak untuk sesekali dilihat, dipetakan kembali , dan dikontekstualisasikan kembali kini.
Konteks politislah yang senantiasa merebut perhatian dalam pembahasan ini. Seni dan Politik ( dalam satu kesatuan yang integratif) seolah merupakan dua wajah yang tak akan lekang untuk tidak dipisahkan satu sama lain. Perbincangannya tidak lagi sekedar melompat-lompat dalam oposisi biner sebagai celah sempit antara " Seni otonom" yang "bersih: dan "seni bertendensi" yang "berlumur ekstra estetika". banyak rongga dicelah tubuh keduanya yang kian penuh kompleksitas, senyampang denga laju progresifitas informasi, teknologi dan pergeseran sistem dan taata niali kebudayaan.
Ditengah-tengah kita telah meruyak bagai rhizome yang menjalar ke segala arah : generasi MTV, masyarakat coca cola, publik fece book yang kian meneguhkan kuatnya perputaran globe tempat kita berpijak. Lalu klau kita tempatkan adagium ilmuwan politik Amerika Harold Lasswell (1902-1978) bahwa politics is who gets what, when, and how (politik adalah sispa mendapat apa, kapan, dan bagaimana caranya), apakah seni termasuk di dalamnya sebagai perangkat atau pelengkap politik? Apakah sebenarnya who itu telah berlaku setara, hingga tak jelas posisi dan kepentingannya satu sama lain? Atau barangkali tepat rumusan guru besar politik UGM, Prof. DR. Mochtar Mas'ud, bahwa politik adalah influnet whom? semuanya bisa ber[otensi untuk berpengaruh dan untuk apa saja pengaruh itu didistribusikan, Ah, politik! Ah, seni!
|