Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
237687 Total visits
328 Visits Today
1 Currently Online
Mata Jendela Edisi ke-4 Tahun 2008
« Kembali  
Edisi : ke-4 Th. 2008, bulan Terbit : Oktober - Desember
Dibaca :
1405 kali

SENI DAN POLiTIK

Ah, Politik! Ah, Seni!

Di kurun itu, percik-percik peristiwa kebudayaan telah menabalkan dengantegas terbelahnya dua aliran utama di kalangan seniman kala itu. Ada aliran universalisme atau humanisme universal yang digawangi oleh seniman kubu gelanggang, serta dilain ihak ada aliran realisme kreatif atau realisme sosialis yang didukung oleh seniman Lekra. Keduanya beserta baku serang yang telah dilakukan mereka dalam pertarungan ideologi(s) itu, (seolah) telah menjadi legenda kebudayaan yang layak untuk sesekali dilihat, dipetakan kembali , dan dikontekstualisasikan kembali kini.

Konteks politislah yang senantiasa merebut perhatian dalam pembahasan ini. Seni dan Politik ( dalam satu kesatuan yang integratif) seolah merupakan dua wajah yang tak akan lekang untuk tidak dipisahkan satu sama lain. Perbincangannya tidak lagi sekedar melompat-lompat dalam oposisi biner sebagai celah sempit antara " Seni otonom" yang "bersih: dan "seni bertendensi" yang "berlumur ekstra estetika". banyak rongga dicelah tubuh keduanya yang kian penuh kompleksitas, senyampang denga laju progresifitas informasi, teknologi dan pergeseran sistem dan taata niali kebudayaan.

Ditengah-tengah kita telah meruyak bagai rhizome yang menjalar ke segala arah : generasi MTV, masyarakat coca cola, publik fece book yang kian meneguhkan kuatnya perputaran globe tempat kita berpijak. Lalu klau kita tempatkan adagium ilmuwan politik Amerika Harold Lasswell (1902-1978) bahwa politics is who gets what, when, and how (politik adalah sispa mendapat apa, kapan, dan bagaimana caranya), apakah seni termasuk di dalamnya sebagai perangkat atau pelengkap politik? Apakah sebenarnya who itu telah berlaku setara, hingga tak jelas posisi dan kepentingannya satu sama lain?  Atau barangkali tepat rumusan guru besar politik UGM, Prof. DR. Mochtar Mas'ud, bahwa politik adalah influnet whom? semuanya bisa ber[otensi untuk berpengaruh dan untuk apa saja pengaruh itu didistribusikan, Ah, politik! Ah, seni! 



   
Daftar Artikel Dalam Edisi ini :    

SEKSUALITAS DALAM CERPEN RADHAR
Penulis : Geger Riyanto
Dibaca : 0 kali
SOME NOTES ON MY TWO-AND-A-HALF-MONTH STAY IN YOGYA
Penulis : Amanda Fe Castillo Echevarria
Dibaca : 0 kali
PERILAKU POLITIK ORANG MADURA
Penulis : Ali Usman
Dibaca : 0 kali
Perihal Ideologi dan Praktik kebudayaan
Penulis : Nurul Huda
Dibaca : 0 kali
"NYUCUP"
Penulis : Zen Rakhmat Pradopo
Dibaca : 0 kali
Seni dalam masyarakat Indonesia/ Edisi 4 - 2008
Penulis : Aprianus Salam
Dibaca : 0 kali
Menyetubuhi estetika, politik sastra dan apa pun bersamaan...../Edisi 4-2008
Penulis : Satmoko Budi Santoso
Dibaca : 0 kali
FASISME DI PANGGUNG SANDIWARA/ EDISI 4-2008
Penulis : FANDY HUTARI
Dibaca : 0 kali