IDENTITAS DAN JANTUNG HATI MALIOBORO
Malioboro kini menjadi poros perdagangan dan ekonomi. Malioboro dengan aneka kegiatan perdagangan selalu bergerak semarak denga sejumlah toko, mall, hotel, penjual aneka cinderamata, aneka jasa transportasi lokal seperti becak dan andong yang selalu menjejalinya. Aneka makanan cepat saji juga tumbuh di sepanjang Malioboro. Seniman jalananpun beraksi menjajakan suara dan alunan musik, baik tradisional maupun modern silih berganti. Makin padat dan penat. Asap kendaraan bermesin makin memanaskan udara dan menyerobot kenyamanan. Belum lagi soal gangguan kriminal, gendam dan pukul harga mengiringi citra negatif Malioboro.
Malioboro mulai menanggalkan rasa Yogya yang semestinya berhati nyaman dengan keramahan, sumanak, sumaket dn berbudaya semua insaninya. Senyum khas Yogya semakin jarang ditebarkan untuk menyapa ketika tamu berwisata. atau ketika ada orang lain yang bertandang ke Malioboro. Tradisi pada hari Kartini di malioboro yang wjib mengenakan kebaya dan pakaian jawa semestinya dilakukan seiap hari. Arsitektur dan bangunan megah modern yang terlanjur ada di Malioboro, setidaknya dapat diredam dengan berpakaian adat Mataraman. Malioboropun semakin kelihatan antara tuan rumah dengan tamunya. Para pengelola andong wisata telah melakukan penegasan identitas dengan berbusana Mataram. Adakah kesadaran baru seluruh para pihak pemangku kebijakan pariwisata untuk menyamankan Malioboro dengan busana Jawa Mataram?
Malioboro tak lagi senyaman 25 tahun yang lalu, ketika masih nyaman untuk melukis. Malioboro maki semrawut karena banyak kepentingan bercokol di sana. Malioboro seperti banyak menanggung beban masalah dan penyakit kapitulasi pusat kota. Jlaur transportasi dan megapolusi di Malioboro yang makin pekat, sejtinya kurang layak untuk pengunjung yang berjubel, sehingga sudah saatnya noda trasnsportasi diganti monorel atau kereta listrik. Nyaman, hijau, bersih, aman, dan rmah adalah jantung Malioboro di Yogya. Sementara hati Malioboro adalah keramahan, ketulusan, kedamian dan kebersamaan yang patut dipelihara di sana.
Malioboro cermin diri Yogyakarta sebagai kota budaya. Kalau belum mencapai tingkat berbudaya., semestinya atraksi seni pertunjukan tradisi maupun modern dapat digelar disepanjang trotoar Malioboro secara gratis atau apresian membayar secara sukarela. Ngamen gaya Didik Nini Thowok setiap bulan semestinya dilakukan dapat setiap hari di Malioboro oleh Sanggar lain. Repertoar jalanan semacam Perfurbance yang pernah digelar di sepanjang Malioboro masih perlu dipersolek dengan aneka karya patung, seni mural atau ekspresi media luar ruang lainnya?
Peduli dan menyayangi Malioboro dapat dilakukan dengan banyak cara dan terobosan. banyak insani kreatif yang dapat mempercantik Malioboro bisa kerjasama dengan SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa, SMM (Sekolah Menengah Musik) dan Institut SeniIndonesia (ISI) serta perguruan tinggi lainnya dengan program kemitraan yang nytaa. Kerjasama pemerintah dan insan seni budaya juga perlu dieratkan untuk Malioboro agar menjadi atmosfir kreativitas. Lebih berdaya, lebih indah, rawam dan membuat pariwisata dan para tamu yang ke Yogyakarta betah, dan kelak kangen karena Malioboro Yogyakarta yang tetap nyaman, berkesan dan aman bagi kita.
|