Hak Berpenghargaan Seni
Penghargaan seni masih dan perlu diselenggarakan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat seni budaya, maupun perorangan. Belum semua seniman seniwati sejahtera. Tidak banyak acara untuk memberikan penghargaan kepada para kreator dan pekerja seni. Jika di institusi pemerintah para pegawai pemerintah memperoleh penghargaan kesetiaan 10 tahun atau 20 tahun, maka bagi seniman atau seniwati pengorbanan dan pengabdiannya lebih dari kurun waktu tersebut belum tentu mendapat penghargaan seni. Apalagi seniman tradisi, penghargaan seni bagai panggang jauh dari api. Tanpa tokoh atau lembaga yang memperjuangkan penghargaan seni, karena mereka kurang tahu lembaga atau pihak yang berkewajiban memberi penghargaan seni tersebut. Memang pantas bagi seniman seniwati tradisi mengajukan diri untuk memperoleh penghargaan seni. Meskipun hal tersebut adalah hak mereka untuk mendapatkannya.
Pendataan dan penyusunan organisasi seni hendaknya jangan dijadikan angka statistik seni budaya saja. Nama tokoh penjaga seni tradisi dan aktivitas grup Kesenian perlu dihargai sesuai darma baktinya. Bantuan dana untuk organisasi kesenian dan budaya sebaiknya disertai pula "upacara" penghargaan seni. Jika setiap tahun bupati/walikota memberikan bantuan terhadap organisasi seni ada 12 orang/grup kesenian maka para penjagaseni tradisi lebih termotivasi atau merasa di-wong-ke sehingga dalam kondisi apapun tetap menyenggalarakan aktivitas dan kreativitas berkesenian hingga akhir hayatnya.
Upaya pemerintah daerah/kota memberikan penghargaan seni perlu didorong agar lebih berkualitas dan berdampak nyata bagi keejahteraan seniman-seniwati penerimanya. Hanya piagam penghargaan saja sebuah sesuatu anugerah yang luar biaa. Apalagi ditambah tabungan, bingkisan, atau fasilitas yang benar-benar menopang keejahteraannya. Khusus para seniman-seniwati penjaga seni tradisi perlu mendapatkan perhatian khusus agar kebangkitan dan revitalisasi seni tradisi semakin menguat. Di bawah tekanan arus budaya global saat ini, warna lokal dan identitas budaya setempat perlu mendapat perhatian khusus aparat pemerintahdengan memberikan "donor darah" kepada yang berhak. JIka hal ini diabikan, sudah pasti seni tradisi hanya sebagai angka statistik dan papan nama yang makin surut aktivitasnya.
Bantuan dan penghargaan seni merupakan bukti nyata pemberian hak eniman-seniwati yang mengabdi tanpa pamrih bagi semaraknya karya seni budaya. jangan sampai regenerasi berkesenian macet karena para seniman nglokro, patah arang, patah semangatkarena kita memang kurang peduli kepada mereka. oleh sebab itu, lembaga manapun atau pihak perorangan yang berpunya perlu memberikan penghargaan seni kepada seniman-seniwati dan budayawan . Jangan sampai setelah wafat diberi penghargaan seni, sehingga terpaksa pihak ahli waris menolak karena selain momentumnya tidak tepat, juga nilai penghargaan seni tersebut memang tak layak.
Hak seniman untuk menerima penghargaan ini. Juga, seniman-seniwati untuk menolak penghargaan seni.
Bagaimanapun juga penghargaan seni perlu diberikan kepada yang berhak. Kewajiban kita memperjuangkan dan hak mereka menerima atau menolak penghargaan seni. Kalau bukan kita yang memperjuangkan hak penghargaan seni kepada seniman siapa lagi?
Apakah kita akan diam saja dengan strategipenghargaan seni oleh negara lain, atau bangsa lain?Kini sudah banyak pekerja kriya dan seni tradisi kita berikan dan makin banyak yang merantau di negeri seberang karene di sana kemampuan membuat keindahan batik, ukir, dan seni/lainnya disanjung dengan nilai normal tinggi. Bahkan suatu saat karya warisan budaya kita. diklaim bangsa kapitalis atau penyandang dana besar, Mau?
|