AGENDA KEGIATAN          iconrss
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
250177 Total visits
129 Visits Today
1 Currently Online
Mata Jendela Edisi ke-4 Tahun 2011
« Kembali  
Edisi : ke-4 Th. 2011, bulan Terbit : Okt - Desember
Dibaca :
1258 kali

Fashion : Penanda Peradaban

Fashion, ada yang menyerap dan menuliskan menjadi fashion, bolehlah disebut sebagai salah satu penanda peradaban. Apabila mencermati sejarah kehidupan manusia, termasuk mengamati kisah-kisah fisik, terutama yang digubah dalam bentuk sinema, kaitan antara fashion dengan peradaban begitu eksplisit diwujudkan. Para aristrokrat , atau sekelompok manusia yang ‘dianggap’ sudah beradab, ditampilkan secara sempurna, utamanya melalui tata busana yang lengkap sesuai zamannya. Sebaliknya, bagi sekelompok manusia yang masih ‘terbelakang’ dihadirkan secara kontras pakaiannya; cukup dengan daun, kulit, atau bahan-bahan alam seadanya untuk sekadar melindungi bagian-bagian vital tubuhnya. Tentu saja penggambaran semacam itu bisa sangat stereotype. Tetapi untuk menunjukkan peran fashion dalam peradaban manusia, bolehlah cara itu disebut  sebagai contoh.

 

Mengacu pada oxford Latihan Dictionary, 1983 (New York: oxford Univerty Press), dijelaskan secara singkat bahwa istilah civilizations paling banyak digunakan untuk merujuk kepada istilah peradaban atau tamadun. Kata civilize merujuk kepada makna memperbaiki tingkah laku yang kasar atau kurang sopan, dan menciptakan keselarasan bagi kepentingan masyarakat. Kata civilized dapat dimaknai sebagai ‘keluar dari kehidupan primitive atau barbarian menuju kehidupan yang mempunyai kehalusan budi dan kesopanan. Dengan kata lain, perihal peradaban tentu saja tak hanya ditunjukkan melalui busana, tetapi seluruh gagasan, perilaku, dan produk manusia secara keseluruhan merupakan variable yang penting untuk melihat seseorang (atau masyarakat) sudah beradab atau masih primitif (untuk tidak menggunakan istilah biadab.

Akan. Tetapi apakah sesungguhnya fahion? Seorang peneliti filsafat dan budaya visual dari Derby University, Malcom Barnard, menurut pengertian fashion seperti berikut ini. Bermula dari Bahasa Latin, factio, artinyamembuat atau melakukan, facere yang artinya membuat atau melakukan. Karena itu, arti asli fashion mengacu pada kegiatan ; fashion merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang, tak seperti dewasa ini, yang memaknai fashion sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang (Malcom Barnad, Fashion Sebagai Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra, 2011. P.11). meski demikian, kata Barnad lebih lanjut, “…. Fashion dan pakaian mungkin merupakan cara paling signifikan yang bias digunakan dalam menginstruksi, mengalami dan memahami relasi social di kalangan manusia. Barang-barang yang dikenakan orang memberi bentuk dan warna pada perbedaan dan ketimpangan social” (Ibid. 12).

            Dalam kamus bahasa Ingris, kata fashion bias berarti 1) cara, kebiasaan basa-basi, 2) mode. Ia menunjukkan ‘perilaku’ atau ‘gaya’. Maka kata fashionable, berarti 1) modern, sesuai dengan mode terakhir; 2) menjadi kebiasaan yang baik. Keduanya tentu saja bertautan; sebuah gaya tertentu, yang dikembangkan dengan segenap petimbangan fungsi, estetika, dan etika, akan berdampak pada kebiasaan (penggunaan) yang baik pula.

            Dunia fashion terus bergerak, entah lurus, entah siklus. Dunia fashion ternyata juga kompleks, karena terkait dengan “ cara mengkomunikasikan identitas social, seksual, kelas, dan gender” (seperti tertera dalam sub judul buku yang dikutip di atas). Ia melekat dengan kehidupan umumnya, maka dunia fashion juga bertumpu pada kreativitas; eksplorasi material, teknik, bentuk, bahkan fungsi. Perancangan tata busana oleh para desainer untuk kepentingan pergelaran (fashion show), perancangan tata busana untuk seni pertunjukan (antara lain teater, tari), tata busana yang penuh fantasi kerumitan seperti yang tampak pada peristiwa Jogya Java Carnaval, Jember Fahion Carnaval, Solo Batik Carnaval, sungguh merupakan pengalaman baru. Betapa, fashion sesungguhnya tak sekedar mode busana yang memancing syahwat komsumsi khalayak kebanyak (yang ditandai dengan merk tertentu, atau edisi yang terbatas, atau bahkan satu-satunya), akan tetapi menjadi bagian penting dari cara dan ekspresi budaya sebuah bangsa.

            Mata jendela edisi akhir tahun 2011 ini, secara khusus menampilkan tema Fashion. Sejumlah artikel dalam berbagai rublik, termasuk percakapan, semua difokuskan pada perbincangan masalah fashion. Artikel yang cukup panjang dan dipenuhi referensi sebagai pendukung kajian, “Ideologi dan Politik Pakaian” ditulis oleh Deni Jusmani merupakan kajian yang mengundang perbincangan lanjut mengenai politik fashion. Sebagai bandingan yang kontras, dihadirkan tulisan seorang pengamat dan pengkaji budaya Jawa. Yuwono Sri Suwito atau KRT Widya Aninditya, “Fashion Tradisional”, yang mengingatkan kita semua, bahwa kita memiliki kekayaan budaya tradisional yang demikian variatif, penuh nilai makna filosofi yang agung. Kemudian artikel seorang arsitek seniman, Ir. Eko Prawoto, M. Arch, tentang “Estetika Tektonika Arsitektur dan Fashion, sebagai Strategi Mengejawatahkan Deaign”, menunjukkan betapa memang fashion melanda seluruh lini kehidupan kita. Pertemuan antara arsitektur, dunia mode, dan seni rupa, sungguh inspiratif. Tak hanya fashion yang terkena dampak, tetapi juga dunia arsitektur menemukan tantangan baru, bahwa sebuah perancangan semestinya juga memiliki basis filosofi yang kuat dan kontekstual. Kemudian artikel lainnya adalah percakapan Redaktur Mata Jendela, Satmoko Budi Santosa dengan Nita Azhar, seorang fashion designer yang idealis, eksplorasi material yang ramah lingkungan, dan memiliki pengalaman internasional yang meyakinkan. Pandangan-pandangannya pantas kita simak bersama.

            Fashion dalam ranah yang lebih praktis, tentu terkait dengan industry kreatif dan ekonomi kreatif. Dunia fashion tak akan pernah surut, karena ia memang melekat pada kehidupan setiap orang.

            Seperti ritual akhir tahun untuk menyambut datangnya tahun baru 2012, selalu dipenuhi renungan atas apa yang sudah dilakukan pada tahun yang sudah dijalani dan yang sudah lewat, sembari berharap banyak hal menjadi lebih baik di tahun yang akan datang. Tema fashion ini semoga dapat menginspirasi terkait dengan harapan-harapan itu. Peradaban harus terus dibangun, dipercangih, dan semakin berdaya guna bagi kepentingan kemanusiaan.

 

Suwarno Wisetrotomo, Redaksi

 

   
Daftar Artikel Dalam Edisi ini :    

Perlu Perda Sosialisasikan Batik di Pasaran
Penulis : Nita Ashar
Dibaca : 0 kali
Kamadjaya, Perjuangan di Atas Panggung
Penulis : Fandy Hutari
Dibaca : 0 kali
Estetika Tektonika Arsitektur dan Fashion
Penulis : Eko Prawoto
Dibaca : 0 kali
Fashion Tradisional
Penulis : Yuwono Sri Suwito
Dibaca : 0 kali
Ideologi dan Politik Pakaian : MAKNA MULTIDIMENASI STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT
Penulis : Deni S. Jusmani
Dibaca : 0 kali