ANAK (BANGSA) DAN KEJAYAAN KREATIVITAS
Seni Indonesia masa depan ada di tangan anak-anak kreatif yang kita semai saat ini dengan penuh kesungguhan, totalitas, dan kasih sayang yang kreatif. Fasilitas dan sarana kegiatan bagi anak-anak pecinta seni kreatif ditumbuh kembangkan di masyarakat dengan program kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUDI) di berbagai dusun telah ditopang oleh proyek pemerintah maupun secara swadaya. Anak-anak Indonesia yang aktif kreatif dengan standarisasi guru Taman Kanak-kanak / PAUD berjenjang sarjana S.1 PAUD. Bayangan masa depan anak Indonesia yang kreatif tentu seakan-akan semakin terang benderang, penuh pesona.
Kenyataan seni anak di arena lomba lukis, misalnya, anak-anak seolah tak berdaya , atau lesu daya kreasinya karena intervensi ‘manajer lomba’ orang tua sangat dominan. Anak tak pernah mempermasalahkan menang kalah dalam suatu lomba lukis misalnya, tetapi orang tua justru melakukan proses yang tidak pantas. Kompetisi kreatif ada kalah ada menang, ada yang baik atau yang buruk, adalah hukum relativitas dalam senia apa pun. Baik menurut siapa, belum tentu baik menurut yang lain? Indah dari kacamata Si Unyil, belum indah buat Pak Ogah!
Disini lain, prestasi anak-anak, sebaiknya justru terkendala oleh dana, atau kebijakan tertentu. Kegiatan lomba-lomba seni untuk anak-anak dari tingkat daerah hingga tingkat nasional kurang terprogram dengan baik. Banyak lomba lukis di tingkat TK?PAUD di kecamatan, akhirnya kandas di kabupaten atau kota saja. Kesempatan berprestasi di tingkat Provinsi dan nasional sebagai sesuatu yang langka. Apabila lomba atau festival seni wakil Indonesia untuk forum internasional? Akan serupa pepatah, jauh api dari panggang.
Teater Tanah Air pimpinan dan sutradara Joze Rizal Manua yang dimainkan anak-anak telah berulangkali memenangkan Festival Teater Anak Internasional sejak 2006 di Jerman. Guna mengulangi prestasinya, TTA di tahun 2010 mengikuti membuat pertunjukan Zero karya Putu Wijaya. Semua persiapan sudah dirancang satu tahun sebelumnya. Akhirnya TTA kandas, tidak dapat hadir pada Festival Teater Anak sedunia tersebut. Akibatnya, TTA tidak memperoleh prestasi apa-apa. Anak-anak kecewa. Semua menangis. Kreativitas seni teater yang dugunakan untuk mengharumkan bangsa Indonesia tidak dapat di realisasikan karena terkendala birokrasi, administrasi visa, dan dana. Apakah negeri kita sangat miskin, dan sehingga tidak ada dana 1 M untuk festival tersebut? Mengapa kontes robot dan olimpiade iptek begitu mudah difasilitasi? Sedangkan seni (teater) belum mendapatkan hak yang sama untuk meninggikan daya kreasi anak-anak Indonesia masa depan.
Regenerasi seni di Indonesia tentu akan menga;ami kendala persemaian dan hambatan kreativitas yang serius jika kebijakan pemerintah masih memandang seni anak sebagai permainan, atau kegiatan kurang penting. Terlebih, anak telah dikepung oleh tehnologi televisi digital dan media komunikasi yang semakin berdampak abai terhadap kenyataan sosial dan kegiatan kreatif, akan menjadi anak Indonesia yang kreatifkah mereka?
Atau menjadi konsumen kreatifitas bangsa lain? Anak-anak Indonesia kelah hanya penonton televisi yang pasif, malas, dan asosial karena tanpa rangsangan kreatifitas seni yang dipraktikkannya? Akankah kita jadi pembeli dan pengguna telepon tangan yang hanya dapat memakai, tanpa bisa membuat aplikasinya?
Untung masih ada opera anak Sunan Geseng yang dimainkan di kampung Kalakijo, Bantul didukung anak-anak Indonesia akan semakin berbudaya dan berdaya, jika Art For Chidren (AFC) seperti di Taman Budaya Yogyakarta, juga ada di kota dan kabupaten yang peduli menyediakan ajang kegiatan kreatif untuk anak-anak di negeri kita tercinta agar masa depan budaya Nusantara lebuh jaya.