AGENDA KEGIATAN          iconrss
 
 
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
235984 Total visits
189 Visits Today
3 Currently Online
Mata Jendela Edisi ke-2 Tahun 2011
« Kembali  
Edisi : ke-2 Th. 2011, bulan Terbit : April - Juni
Dibaca :
1860 kali

TAMAN BUDAYA

Membincangkan Keberadaan Taman Budaya  (TB) secara umum, dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai salah satu derivatnya, adalah membincangkan secuil sejarah dan visi pemikiran tentang seni dan budaya versi negara. Secara historis kemunculan TB bagian dari kebijakan Direktorat Jendelal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI kurun 1970-an. Dirjend Kebudayaan kala itu, Prof. DR. Ida Bagus Mantra, memandang perlunya pusat-pusat kebudayaan dan kesenian. Pusat-pusat secam itu didukung sarana bagus dan terpadu. Fakta ini perlu karena pusat kebudayaan itu dapat menjadi etalase bagi kekayaan ragam seni budaya daerah.

Tahun 1978, Berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berdirilah pusat-pusat kebudayaan yang disebut Taman Budaya (TB) di beberapa Provinsi di Indonesia, termasuk di Yogyakarta. Tahun 1991. organisasi dan tata kerja Taman Budaya mengalami perubahan berdasarkan Sk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0221/o/1991. Lalu aberikutnya, tMana Budaya ditempatkan dalam setruktur Pemda sesuai UU No. 22/19999 dan Peraturan Pemerintah no. 25/2000 tentang otonomi daerah.

Melalui masa transisi tahun 2000 - 2001 Taman Budaya Yogyakarta (TBY)  masuk dalam struktur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Berdasarkan Perda No. 7/2002 dan Keputusan Gubernur DIY No. 181/2002 tanggal 4 November 2002, TBY resmi menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Kemudian dengan terbitnya Peraturan Gubernur DIY No. 42 tahun 2008 Taman Budaya Yogyakarta sebagai UPT Dinas Kebudayaan Provinsi DIY dengan tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengkajian, pengolahan, eksperimentasi, sebagai etalase, serta pusat dokumentasi dan informasi seni budaya.

Secara khusus, TBY talh dirancang dengan visi yang tegas, yakni terwujudnya TBY sebagai "the Window of Yogyakarta" menuju pusat budaya terkemuka di tingkat nasional dan internasional. Sedangkan misinya adalah memberikan ruang kreatif bagi seniman dan budayawan untuk mempresentasikan karya kreatif dan pemikiran mereka. Juga menjadi suatu pusat laboratorium pengembangan dan pengolahan seni, dokumentasi dan  informasi seni budaya. TBY juga berupaya meningkatkan kompetisi dan kemampuan masyarakat dalam mengapresiasi seni budaya.

Faktanya, sudah pasti ada kesenjangan atau keberjarakan antara sesuatu yang dirancang dan aplikasinya di lapangan. Problem SDM, Fasilitas, kebijakan yang bersifat nasional maupun lokal turut memberi warna pada dinamika yang terjadi pada berbagai TB di INdonesia, juga TBY.

Pada titik inilah, ketika ekselerasi jaman memberikan banyak beban tuntutan, sementara pada ranah internasional terjadi banyak problem hingga tak mudah mengejar ketertinggalan. Posis Taman Budaya mau tidak mau membutuhkan banyak sumbangan pemikiran. Ini penting untuk menyelaraskan titik temu Taman BUdaya yang sesungguhnya.

"Matajendela" pada edisi kali ini merupakan edisi khusus yang berisi hasil pemikiran tentang posisi Taman Budaya, hasil dari program Focus Group Diskussion (FGD) bertema "Reposisi Taman Buadaya (Yogyakarta)"  yang dihelat redaksi "Matajendela"  Taman Budaya Yogyakarta didukung oleh Dewan Kebudayaan Provinsi DIY pada hari Sabtu, Tanggal 9 April 2011 di ruang Seminar TBY. Mereka yang terlibat dalam FGD ini adalah sosok yang kami andalkan menjadi perwakilan pers budaya, yakni hairus salim, pengelola majalah seni budaya "GONG"  (almarhum). Lalu presentasi akademisi : Dr. Lono Simatupang, dan Dr. Aprianus Salam, keduanya dosen Fak. ilmu budatya UGM.

Sosok yang kami representasikan sebagai penonton adalah Wisnu Matha Adiputra, dan Muskridho "Dodi" Ambaradi, kaduanya dosen Jurusan JUr. Komunikasi, Fak. Ilmu Sosial Politik UGM. Lalu wakil dari lembaga kebudayaan yaitu Ons Untoro (Direktur Rumah Budaya Tembi), Sedangkan pelaku seni adalah Gunawan Maryanto (aktor dan sutradari Teater Garasi dan Rain Rosidi, kurator dan dosen Fak. S. Rupa ISI. Sebagai moderator : kuss Indarto dan Suwarno Wisetrotomo, M. Hum. keduanya dari Tim Redaksi Matajendela.

   
Daftar Artikel Dalam Edisi ini :    

Mempertimbangkan Peran Kerja Kuratorial di Taman Budaya
Penulis : Rain Rosidi
Dibaca : 0 kali
TBY : Reposisi atau Revolusi Pusat Dokuemntasi?
Penulis : Kuskrido "Dodi" Ambardi
Dibaca : 0 kali
Lembaga Kebudayaan dan Dinamika Kebudayaan
Penulis : Ons UNtoro
Dibaca : 0 kali
Reposisi Taman Budaya Yogyakarta (TBY) : Benteng Terakhir Indonesia
Penulis : Aprianus Salam
Dibaca : 0 kali
Reposisi Taman Budaya (Yogyakarta : Beberapa Saran dari Penikmat Kreasi Budaya
Penulis : Wisnu Martha Adiputra
Dibaca : 0 kali
Beberapa Nota Untuk Taman Budaya Yogyakarta (TBY)
Penulis : Gunawan Maryanto
Dibaca : 0 kali
Taman Budaya Yogyakarta Dalam Perspektif Keindonesiaan
Penulis : Aprinus Salam
Dibaca : 0 kali