OH..... TEATER TAK ADA MATINYA
Jika Anda kebetulan sudah pula mengetahui, berdasarkan pengalaman langsung,membaca, atau mendengar, bahwa pada dasawarsa 80an dan atau 90an kegiatan teater di Jogja sangat kentara, mungkin Anda menyeletuk: teater di Jogja sudah sejak lama ada.
Meski hingga hari ini kegiatan teater di Jogja terus berlangsung, memang ada sinyalemen bahwa kehidupan teater di Jogja hari ini kurang semarak dibandingkan dengan kurun 80an atau 70an. sekarang media cetak lokal, khususnya surat kabar, terkesan jarang melaporkan adanya pergelaran teater di Yogyakarta. tetapi sementara itu patut diingat, beberapa kelompok yang tumbuh dan berkembang akhir 1990an dan di tahun 2000an dikenal dengan cukup baik di luar Yogya dan/atau Indonesia. contoh yang dapat ditunjuk, antara lain, adalah kelompok Papermoon dan Seni Teku. yang disebut terakhir ini pemenang Festival Teater Jogja 2009 yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta. dan penampilan mereka pada Mimbar Teater Indonesia 2010 di Solo, bulan Oktober, memperoleh sambutan positif dari penonton maupun pengamat.
Membuat sinyalemen tentang teater Yogya - entah yang posit atau negatif - hanya berdasarkan apa yang dikabarkan oleh media surat kabar, atau sekedar melihat apa yang berlangsung di satu, dua atau tiga gedung pertunjukan "bergengsi" tempat teater (diandaikan) biasa digelar, rasanya semakin sulit. soalnya, pemekaran wilayah hunian fasilitas pendidikan tinggi - terutama - dipadu dengan pertambahan penduduk, mengakibatkan pemencaran pusat-pusat kegiatan kesenian pula.
Letak fasilitas pendidikan tinggi perlu disebut, karena satu hal yang juga cukup jelas tentang pertumbuhan-perkembangan teater kontemporer di Yogyakarta, sekurangnya sejak awal kemerdekaan, adalah faktor keberadaan Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Di tahun 50an - 60an, Universitas Gajah Mada, khususnya Fakultas Sastra, Pedagogi dan Filsafat (itu nama satu Fakultas, bukan tiga), memberikan andi pertumbuh kembangan itu melalui, antara lain, Subagio Sastrowardojo, Umar Kayam, dan WS Rendra semasa mereka masih mahasiswa.
Ada lagi contoh yang mendebarkan tentang hubungan antara(kualitas) pendidikan dan "jenis" kemungkinan teater yang dapat diwujudkan: di tahun 1957 itu. Persatuan Pelajar SMA III/B (baca: SMA khusus Jurusan Ilmu Pasti) mementaskan naskah Shakespeare dalam bahasa Inggris!
Tentang faktor pendidikan dalam pertumbuh kembangan teater kontemporer ini, sudah sejak dua dasawarsa, sekurangnya, teater komtemporer Jogja menaruh harapan besar kepada Seni Indonesia Yogyakarta. Di institusi itulah berkarya profesor pertama di bidang Seni Teater Indonesia.
|