Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914
Fax 0274 580771


Kontak Messenger
 RGT Sambodo, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
 Rudi TBY
 Taman Budaya

Statistics
237814 Total visits
455 Visits Today
6 Currently Online
Mata Jendela Edisi ke-4 Tahun 2010
« Kembali  
Edisi : ke-4 Th. 2010, bulan Terbit : Oktober - Desember
Dibaca :
2278 kali

OH..... TEATER TAK ADA MATINYA

Jika Anda kebetulan sudah pula mengetahui, berdasarkan pengalaman langsung,membaca, atau mendengar, bahwa pada dasawarsa 80an dan atau 90an kegiatan teater di Jogja sangat kentara, mungkin Anda menyeletuk: teater di Jogja sudah sejak lama ada.  

Meski hingga hari ini kegiatan teater di Jogja terus berlangsung, memang ada sinyalemen bahwa kehidupan teater di Jogja hari ini kurang semarak dibandingkan dengan kurun 80an atau 70an. sekarang media cetak lokal, khususnya surat kabar, terkesan jarang melaporkan adanya pergelaran teater di Yogyakarta. tetapi sementara itu patut diingat, beberapa kelompok yang tumbuh dan berkembang akhir 1990an dan di tahun 2000an dikenal dengan cukup baik di luar Yogya dan/atau Indonesia. contoh yang dapat ditunjuk, antara lain, adalah kelompok Papermoon dan Seni Teku. yang disebut terakhir ini pemenang Festival Teater Jogja 2009 yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta. dan penampilan mereka pada Mimbar Teater Indonesia 2010 di Solo, bulan Oktober, memperoleh sambutan positif dari penonton maupun pengamat.  

Membuat sinyalemen tentang teater Yogya - entah yang posit atau negatif - hanya berdasarkan apa yang dikabarkan oleh media surat kabar, atau sekedar melihat apa yang berlangsung di satu, dua atau tiga gedung pertunjukan "bergengsi" tempat teater (diandaikan) biasa digelar, rasanya semakin sulit. soalnya, pemekaran wilayah hunian fasilitas pendidikan tinggi - terutama - dipadu dengan pertambahan penduduk, mengakibatkan pemencaran pusat-pusat kegiatan kesenian pula. 

 Letak fasilitas pendidikan tinggi perlu disebut, karena satu hal yang juga cukup jelas tentang pertumbuhan-perkembangan teater kontemporer di Yogyakarta, sekurangnya sejak awal kemerdekaan, adalah faktor keberadaan Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Di tahun 50an - 60an, Universitas Gajah Mada, khususnya Fakultas Sastra, Pedagogi dan Filsafat (itu nama satu Fakultas, bukan tiga), memberikan andi pertumbuh kembangan itu melalui, antara lain, Subagio Sastrowardojo, Umar Kayam, dan WS Rendra semasa mereka masih mahasiswa.

 Ada lagi contoh yang mendebarkan tentang hubungan antara(kualitas) pendidikan dan "jenis" kemungkinan teater yang dapat diwujudkan: di tahun 1957 itu. Persatuan Pelajar SMA III/B (baca: SMA khusus Jurusan Ilmu Pasti) mementaskan naskah Shakespeare dalam bahasa Inggris!

Tentang faktor pendidikan dalam pertumbuh kembangan teater kontemporer ini, sudah sejak dua dasawarsa, sekurangnya, teater komtemporer Jogja menaruh harapan besar kepada Seni Indonesia Yogyakarta. Di institusi itulah berkarya profesor pertama di bidang Seni Teater Indonesia.

       

 

 

   
Daftar Artikel Dalam Edisi ini :    

Struktur Ruang Publik: Menilkik Jogja Fashion Week Carnival di Yogyakarta
Penulis : Deni Setiawan, Timbul Haryono, M. Agus Burhan
Dibaca : 0 kali
Kisah Dewi Dja, Dari Jawa ke Amerika
Penulis : Fandy Hutari
Dibaca : 0 kali
Tenun Ikat Dayak: Ekspresi Kosmologis Manusia Dayak
Penulis : Asriyadi Alexander Mering
Dibaca : 0 kali
Teater Tutur Aceh Selayang Pandang
Penulis : Sulaiman Juned
Dibaca : 0 kali
Teater Indonesia Harus lebih Sejahtera dan dinamis
Penulis : Prof.DR. Hj. Yudiaryani, M.A.
Dibaca : 0 kali
DEWAN TEATER YOGYAKARTA "merajut kembali harapan tersisa"
Penulis : Daru Maheldaswara
Dibaca : 0 kali
SkAnA Newsletter Teater Jogja: The Flower Of The Youth
Penulis : Hindra Setyarini
Dibaca : 0 kali
Dari Ide Ke Naskah Lakon
Penulis : Indra Tranggono
Dibaca : 0 kali
Mengapresiasi TeaterGarasi Yogyakarta
Penulis : Nur Iswantara
Dibaca : 0 kali