|
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914 Fax 0274 580771 Kontak Messenger
Statistics
250189 Total visits
141 Visits Today 2 Currently Online |
PROFIL MAESTRO TGL 06 DAN 07 AGUSTUS 2010
Profil maestro UMAR KAYAM UMAR KAYAM, lahir di Ngawi Jawa Timur 30 April 1932 dan meninggal di Jakarta 16 Maret 2002. Sosiolog dan budayawan yang berwatak solider ini giat di bidang sastra, drama dan koran dinding sejak masih SMP. Anak pertama dari sepuluh bersaudara ini lahir dari keluarga priyayi menengah. Ayahnya, Soekotjo Sastrosoekotjo, seorang guru HIS yang mengagumi sastrawan Persia abad 11 Omar Kayyam. Maka, kertika anak pertamanya lahir diberi nama Umar Kayam yang kemudian memang menjadi sastrawan, seperti yang dicita-citakan Pak Soektjo. Tamat dari UGM, Kayam mendapat beasiswa untuk kuliah di New York University, AS tahun 1961-1963. Di New York, Kayam bersama isterinya Rooslina Hanoum, menyewa sebuah kamar murah. Di kamar pengap inilah ide-ide cerita pendeknya mulai bersemi. Kayam baru menuliskannya ketika ia mengejar gelar doktornya di Cornell University tahun 1965. Proses kreatif itu berlanjut hingga Kayam menjadi Dirjen Radio- Televisi-Film Departemen Penerangan RI tahun 1969, dan menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta merangkap Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta sampai tahun 1972. Lahirlah cerpen-cerpennya yang memukau, seperti yang kemudian dibukukan dalan Seribu Kunang-kunang di Manhatan (1972) dan Sri Sumarah dan Bawuk (1975). Dua antologi cerpen itu telah digabungkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Belanda. Kayam disebut-sebut punya peran besar dalam berdirinya Orde Baru, meskipun akhirnya ia kemudian kecewa karena Orde Baru ternyata tidak seperti yang dicita-citakan. Ia pun memilih menjadi manusia bebas: mengajar, menulis, ceramah di mana-mana, reriuangan dengan keluarga dan sahabat dan…makan enak. Ia pun berujar, “Sugih konco luwih penting tinimbang sugih bondo” (kaya akan teman lebih penting daripada kaya harta). Pandangan-pandangan hidupnya ia tuliskan dalam sejumlah kolom, antara lain dalam buku Mangan Ora Mangan Kumpul; Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih dll.
LINUS SURYADI AG LINUS SURYADI AG yang lahir 3 Maret 1951 di dusun Kadisobo, Sleman, Yogyakarta ini dikenal sebagai penyair lirik yang kuat. Salah satu karyanya yang pernah menghebohkan jagat sastra Indonesia adalah Pengakuan Pariyem (1981); sebuah puisi sangat panjang, bergaya lirik dan menyerupai novel. Putra kedua dari sepuluh bersadara dari keluarga petani Jawa ini pernah kuliah di Akademi Bahasa Asing dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Jurusan Bahasa Inggris, namun tidak tamat. Selebihnya otodidak. Linus mulai aktif di dunia tulis menulis sejak tahun 1970, ketika bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK), mingguan Pelopor Yogya asuhan Umbu Landu Paranggi. Paska era PSK, ia pun melanglang jagat di antaranya menjadi peserta International Writing Programme, Iowa University AS (1982), peserta Festival Kebudayaan Indonesia, London University, Inggris (1990). Linus beberapa kali memperoleh penghargaan di antaranya, pada tahun 1979, sajaknya Berlayar mendapatkan penghargaan dari BBC London; pada tahun 1984 mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah DIY dan pada 1994 kumpulan sajaknya Rumah Panggung mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa, Jakarta. Selain aktif berpuisi, ia pun pernah menjadi redaktur budaya di Harian Berita Nasional (1979-1986), menjadi anggota Dewan Kesenian Yogyakarta (1986-1996) dan menjadi pemimpin redaksi majalah budaya Citra Yogya (1987-1997). Belasan buku sastra telah ia tulis di antaranya Perang Troya, cerita anak (Balai Pustaka, 1977); Langit Kelabu kumpulan puisi (Balai Pustaka 1980), Pengakuan Pariyem (Sinar Harapan, 1981), Perkutut Manggung (1986), Rumah Panggung (1988), Kembang Tunjung (1988), juga sebagai editor dalam Tugu, Antologi 32 Penyair Yogya (1986), Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern , empat jilid (1987) dan lainnya.
KUNTOWIJOYO Penyair, novelis, esais dan sejarawan ini lahir di Sorobayan, Bantul, Yogyakarta 18 september 1943. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM (1969), meraih gelar MA dari Universitas Connecticut, AS (1974) dan meraih Ph.D dari Universitas Columbia, AS (1979). Kuntowijoyo dikenal sebagai penyair, penulis naskah drama dan cerpenis yang kuat, terutama karena temanya yang mengeksplorasi spiritualisme, mitologi, filsafat dan sejarah. Cerpennya, Dilarang Mencintai Bunga-bunga memperoleh hadiah pertama dari majalah Sastra (1968). Naskah dramanya Rumput-rumput Danau Bento memperoleh hadiah dari BPTNI (1968). Topeng Kayu, naskah dramanya yang lain, mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta (1973). Novel-novelnya yang telah dipublikasikan antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Pasar (1972) dan Khotbah di Atas Bukit (1976). Kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah: Isyarat dan Suluk Awang-uwung. YB MANGUNWIJAYA Rohaniawan, budayawan, arsitek, perintis pendidikan dasar alternative dan novelis ini lahir di Ambarawa, Jawa Tengah 6 Maret 1929 dan meninggal di Jakarta 10 Februari 1999. Selain dikenal sebagai esais yang kritis, ia pun dikenal sebagai tokoh humanis yang terlibat membela masyarakat marjinal. Pada saat Orde Baru (tahun 1980-an) berkuasa, ia gigih membela para korban penggusuran proyek Kedung Ombo, Sragen Jawa Tengah. Manguwijaya menyelesaikan pendidikannya di Institut Filsafat dan Teologi Sancti Yogyakarta (1959), kemudian meraih Dipl. Ing dari Sekolah Teknik Tinggi Rhein-Westfalen, Aarchen, Jerman (1966). Bukunya, Sastra dan Religiositas (1982) meraih Hadiah Sastra DKJ (1982) dan novelnya Burung-burung Manyar (1981) meraih hadiah Sastra ASEAN (1983). Novel itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan Belanda. Karyanya yang lain adalah Ragawidya, Puntung-puntung Roro Mendut, Ikan-ikan Hiu Ido Homa, Genduk Duku, Lusi Lindri, Burung-burung Rantau, Durga Umayi, Pohon-pohon Sesawi dan Rumah Bambu.
RENDRA Penyair, dramawan dan budayawan yang lahir di Surakarta 7 November 1935 ini dikenal sebagai “pemberontak” kebudayaan yang mapan dan mandek. Karya-karyanya sarat dengan kritisisme dan berbagai nilai kemanusiaan. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater yang kiprahnya berpengaruh besar terhadap perkembangan dunia teater di Indonesia. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ia ditahan rezim Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang-orang Tercinta (1956) meraih Hadiah Sastra Nasional dari BMKN. Karya lainnya yang sudah terbit adalah Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjanalan Bu Aminah (1997), dan Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling yaitu Indonesian Poet in New York (1971), Rendra: Ballads and Blues (1974) dan Contemporary Indonesian Poetry (1975). Rendra juga menerjemahkan drama klasik dunia, yaitu Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976) ketiganya karya Sophocles. Pemerintah RI memberikan Anugerah Seni pada Rendra pada tahun 1970. Lima tahun kemudian ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta. Sedangkan Hadiah Sastra dari Raja Thailand, South East Asia Write diterima Rendra pada tahuyn 1996.***
|
|
|
