|
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sri Wedani No 1 Yogyakarta
Telp. 0274 523512, 561914 Fax 0274 580771 Kontak Messenger
Statistics
249800 Total visits
379 Visits Today 2 Currently Online |
Pentas KETHOPRAK RINGKES TJAP TJONTHONG
![]()
KETHOPRAK RINGKES TJAP TJONTHONG
mempersembahkan
TRESNAKU PATIMU
Karya : Drs. Susilo Nugroho
Tim Sutradara Marwoto Kawer dan Susilo Nugroho “Den Baguse Ngarso”
Penata Artistik Nano Asmorodono
Penata Iringan Warsana Kliwir S.Sn,.M.Sn.
Pimpinan Produksi Nicky Nazaready S.Pd.
Akan Diselenggarakan pada Hari Senin, Selasa, dan Rabu Tanggal 20, 21, dan 22 Agustus 2012 Pukul 20.00 wib Tempat Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta Jl. Sriwedari no 1. Yogyakarta
Pemain Hargi Sundari/Bayu Saptama/Susilo Nugroho Den Baguse Ngarsa/ Marwoto Kawer/Rini Widyastuti/Sarjono/Novi Kalur/Ahmad Hasfi/ Bagong Trisgunanto/Sudiharjo Sronto/ Rio Pudjangkoro/Nano Asmorodono/Wira Adritama
Pemusik Warsana “Kliwir” ,S.Sn,.M.Sn./Catur “Benyek” Kuncoro/Maryono “Jeep”/ Doyok Kadipiro .S.Kar./Anom Wibowo. S.Sn./Anon Dugul
HTM : Rp.25.000.00 (25K) Rp.15.000.00 (15K)
SINOPSIS KETHOPRAK RINGKES TRESNAKU PATIMU
Betapa sulitnya bagi seorang ibu bila harus bermusuhan dengan anaknya sendiri. Di satu sisi ia sangat mencintai anaknya, disisi lain ia mengetahui si anak telah melakukan kesalahan besar dan tidak mau di arahkan. Itulah yang dihadapi Gusti Ratu Asyikah yang harus memusuhi Sultan Trenggana dan Mas Rara Pinasti yang harus bermusuhan dengan Jalu.
Perubahan kebijakan dari Gusti Ratu Asyikah ke Sultan Trenggana menimbulkan masalah. Bagi Gusti Ratu Asyikah, Demak tidak perlu memperluas wilayah, tetapi yang penting bisa memakmurkan rakyat dan berperan besar bagi negara-negara lain disekitarnya. Ia bersama Adipati Unus berinisiatif memperkuat angkatan laut dan mengusir Portugis bersama negara – Negara tetangga. Meski usahanya gagal, ia tetap gigih untuk mengusir Portugis. Sementara itu Sultan Trenggana tidak menghiraukan lagi kebijakan Gusti Ratu Asyikah. Ia berkonsentrasi menyusun kekuatan untuk menguasai seluruh Jawa. Pertentangan pun tidak terelakkan.
Di sisi lain, Kadipaten Tuban yang telah menyokong penyerbuan Demak ke Malaka protes keras kepada Sultan Trenggana, karena prajurit Tuban yang terdampar di Malaka terlantar. Protes itu tidak digubris. Raden Kusnan sebagai duta gagal membujuk Sultan Trenggana. Bahkan Sultan Trenggana justru menyerbu Tuban.
Tuban dalam keadaan rapuh. Masyarakat kurang perduli kepada kepemimpinan sang Adipati. Sebagian masyarakat sakit hati karena selama ini tidak diperhatikan oleh sang Adipati dan mereka tahu Mas Rara Pinasti, penari idola mereka sekaligus istri Senapati Wira Doran, telah diperkosa syahbandar Rangga Baruna. Anehnya sang Adipati tidak mengambil tindakan apapun. Penyerbuan Demak ke Tuban hampir tanpa hambatan. Sang Adipati melarikan diri.
Senapati Wira Doran yang baru datang dari malaka menghentikan kejaran Sultan Trenggana. Pada saat itu muncul pula Gusti Ratu Asyikah membela Tuban. Gusti Ratu Asyikah terpaksa menyerang Sultan Trenggana. Baginya, mencintai anak berarti harus berani membunuhnya, bila si anak membuat kesalahan fatal dan tidak mau dicegah. Sultan Trenggana memang tidak mati, tetapi Gusti Ratu Asyikah konsisten menentang kemauan Sultan Trenggana.
Sementara itu Jalu, anak Mas Rara Pinasti, bertemu Rangga Baruna, bapak biologisnya yang tidak mau mengakui sebagai anak. Jalu marah dan membunuh Rangga Baruna. Tindakan ini membuat Mas Rara Pinasti marah dan mengusir Jalu. Ia yang telah diperkosa pun tetap memelihara benih yang dikandungnya, mengapa benih itu sekarang telah membunuh bapak biologisnya? Meski ia benci pada si pemerkosa, tetapi ia mencintai anak kandungnya. Karena mencintai si anak, ia berani mengusir si anakberbuat kesalahan fatal. Kepergian anak diharapkan menemukan kebenaran atau mati bila ia tidak menemukannya.
|
|
|

