"Kupu kupu" - Pertunjukan Komunitas Tuli
Rabu, 28 Desember 2011  

Kamu memakai telinga untuk menyimak, kami gunakan mata

Kamu gunakan lidah untuk bicara, kami gunakan tangan

Ketulian merupakan anugerah yang indah dari Tuhan

 

Tidak mudah mengajari penderita tunarungu bermain teater. Perlu ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Dan, itulah  yang ditunjukkan Broto Wijayanto, pelatih drama anak-anak penderita tunarungu di Jogja.

 

AINUR ROHMAH

 

’’Mas, apakah Tuhan bisa bahasa isyarat? Soalnya kalau nanti saya mati, bagaimana Tuhan bisa mengerti apa yang saya katakan,” ucap Broto Wijayanto menirukan apa yang pernah dikatakan salah seorang muridnya beberapa waktu silam.

 

Menurut cerita Broto, waktu itu anak-anak tunarungu diajari konsep ketuhanan oleh seorang voluntieer. Sebuah pekerjaan yang sulit karena konsep itu harus diterangkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Hasilnya adalah pertanyaan kepada Broto dengan bahasa isyarat yang diungkapkan salah satu murid tunarungu itu. ’’Itu pertanyaan yang sangat dalam maknanya,” kata laki-laki kelahiran 11 Februari 1976  itu.

 

Bisa dibilang Broto adalah sosok yang istimewa karena dedikasinya terhadap perkembangan kreativitas anak-anak tunarungu di Jogja. Di bawah Deaf Art Community (DAC), dia mengajari para remaja yang tuli sekaligus bisu itu untuk bermain teater dan pantomim. Sebuah pekerjaan yang, mungkin bagi sebagian orang, mustahil dilakukan. Namun, buktinya, Broto sudah mengajar anak-anak tunarungu itu sejak 2004.

 

Mulanya, Broto berkenalan dengan DAC dari beberapa mahasiswa psikologi UGM yang tergabung dalam komunitas Matahariku Social Voluntary. Waktu itu, dia diminta untuk mengajari anak tunarungu bermain teater. Broto pun menyanggupi.

 

’’Tapi Matahariku sekarang sudah vakum sehingga DAC jalan sendiri,” terang Broto yang mengaku murid pantomimer Jemek Supardi itu.

 

Awal mengajar para tunarungu usia SD-SMA, Broto merasa menjadi pesakitan di antara orang sakit. Pasalnya, tidak ada yang paham apa yang dia sampaikan. Namun, titik terang mulai terlihat ketika Broto berusaha menyampaikan buah pikirnya dengan berpantomim. Maklum, keahlian Broto adalah pantomim selain teater.

 

’’Mereka langsung senang bisa berpantomim dan bercerita lewat gerak yang mereka ciptakan sendiri,” cerita Broto antusias.

 

Kalau dipikir, hal itu tidak mengejutkan karena sehari-hari anak-anak tunarungu itu mesti ’’berpantomim’’ untuk berbicara. Dari sanalah, Broto sadar kalau anak-anak itu tidak hanya muridnya, tetapi juga gurunya sekaligus.

 

’’Merekalah guru pantomim terbaik saya,” tutur alumnus ISI Jogja jurusan teater itu.

 

Selain pantomim, latihan di Taman Budaya Yogyakarta setiap Minggu pukul 16.00 diisi dengan belajar free style hip-hop, puisi dalam bahasa isyarat, dan sulap. Murid-murid Broto pun tampak antusias belajar.

 

Untuk benar-benar bisa masuk ke kelompok anak-anak tunarungu itu, Broto mesti belajar alfabet bahasa isyarat. Ketika berangkat menuju tempat latihan di TBY, Broto biasa melihat tulisan di pinggir jalan dan mempraktikkan dalam bahasa isyarat. Dia pun belajar dari anak didiknya kata demi kata. Kini dia cukup lancar berbahasa isyarat sehingga mampu berdialog dengan murid-muridnya. Bahkan sesekali dia diminta sebuah LSM untuk terlibat dalam beberapa proyek yang butuh penerjemah bahasa isyarat. Honornya dia masukkan ke kas komunitas.

 

’’Saya dapat ilmu dari mereka, saya kembalikan ke mereka,” ujar Broto yang juga guru honorer di SMKI jurusan teater itu.

 

Karena tim yang solidlah beberapa pertunjukan sudah mereka kecap. Sebagian besar dengan dana sendiri. Menurut Broto, semakin sering manggung, membuat murid-muridnya percaya diri tampil di depan umum. Lebih jauh agar mereka bisa diterima di lingkungannya. Ibaratnya, upaya mereka saat ini adalah pembuktian bahwa penderita tunarungu juga memiliki kemampuan yang sama dengan orang normal. Hanya pendekatannya saja yang berbeda.

 

Dulu, ketika belum ada DAC, para remaja tunarungu sering terlihat di Titik Nol Kilometer ketika malam dan menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan. Namun, sejak ada DAC, mereka lebih giat mengekspresikan diri lewat teater.

 

Broto mengakui bahwa kekurangan utama komunitas mereka adalah tidak adanya sumber dana tetap. Oleh karena itu, kadang dana untuk pentas tidak selalu tersedia. Menurutnya, sulit baginya untuk melibatkan pemerintah dalam program pembinaan para tunarungu ini. ’’Kerja sama dengan pemerintah itu rumit,” katanya.

 

Alasan yang lebih utama, Broto ingin melihat anak didiknya mandiri tanpa harus meminta-minta kepada pemerintah. Sebab, kalau mereka bisa sendiri, sebaiknya tetap mandiri. ’’Dulu ada yang ingin DAC jadi LSM,” lanjut Broto.

 

 

 

Alih-alih terbentuk menjadi LSM, kondisi DAC justru jadi lesu karena anak-anak ketakutan terorganisasir secara serius. Apalagi, ada target yang harus dipenuhi anak-anak. Akhirnya, Broto tidak setuju dan mengembalikan DAC seperti konsep semula sebagai tempat para tunarungu bersenang-senang dengan berkesenian.

 

Kini, upaya Broto selama tujuh tahun sudah bisa dirasakan anggota komunitas yang sudah banyak menelurkan alumni. Arif Wicaksono, 21, misalnya, sudah bisa memimpin dan mengajari teman-temannya cara berekspresi dengan gerakan. Anak tunarungu yang cerdas itu termotovasi oleh dukungan teman-temannya untuk membentuk kelompok teater yang mumpuni.

 

”Saya ingin mendapat kesempatan untuk pentas seperti kelompok-kelompok teater lain yang bisa pentas,” kata Arif dalam bahasa isyarat, seperti diterjemahkan Broto.

 

Intinya, Arif ingin agar dia dan teman-temannya memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang normal. Dengan gerakan tangan yang pasti, Arif mengandaikan DAC dengan roket yang melesat ke atas, tidak hanya sejajar dengan teater-teater lain.

 

Laki-laki 21 tahun itu pun ingin agar teater menjadi sarana di mana masyarakat bisa mengenal lebih baik tentang orang-orang tunarungu. Pasalnya, selama ini keberadaan mereka sangat disisihkan. Karena keterbatasan komunikasi, keinginan mereka tidak dimengerti orang normal.

 

’’Saya ingin memberi info kepada masyarakat tentang tunarungu agar mereka paham tentang kami,” papar Arif bersemangat.

 

Ketika ditanya pendapatnya tentang Broto, dengan cepat Arif mengacungkan kedua jempol. Tanpa banyak kata, itu sudah menjelaskan bahwa Broto adalah sosok idola baginya. Masih dengan bahasa isyarat, Arif mengatakan bahwa Broto berjasa telah membantu menghidupkan bakatnya. Dia pun berharap bisa membantu teman-temannya untuk selalu menekuni teater jika Broto sudah tidak bersama mereka lagi.

 

Rencananya, DAC akan mementaskan lakon berjudul Aku Ingin Menjadi Kupu-kupu pada 28 Desember 2001.

 

’’Berkat teman-teman tunarungu saya bisa lebih bersyukur punya telinga yang bisa mendengar. Sebagai orang yang memiliki semuanya utuh, saya ingin berterim kasih bisa menemani mereka berkesenian,” pungkas laki-laki yang juga mengajar Art for Children itu.